03 Maret 2009

Ratap Harap

Kau renggut jiwa yang membara
Kau rebut seribu kata yang siap merayu
Yang telah siap mendambamu

kau lepaskan rasa dari tubuhku
Dari raga yang bersimpuh di hadapmu
Yang berharap kau memeluknya

Rintik hujan merintih
Ratap mega lesu
Sejuta khayal indah tiba-tiba hilang
Melarikan jiwa yang penuh harapan

Kau Lumbung maaf
Kau yang maha penyayang
Apakah kau akan tetap menyayangiku?
Meski aku membawakanmu kesalahan yang sulit diterima
Sulit dimaafkan mungkin
Kau yang maha pemurah
Apakah kau masih tersenyum kepadaku?
Meski aku tak bisa lakukan kesetiaan
Apakah kau mengambil jiwaku karena sayang?
Meski hanya baru aku bilang maaf


oleh Nugraha

4 komentar:

umi rina mengatakan...

Sungguh Dia Maha Penyayang, Maha Pengampun, Maha Menerima Taubat...
Sudahkah engkau menyayangiNya dan menyayangi dirimu sendiri?
Sungguh, hanya engkau dan Dia yang tahu jawabannya...:)

The Dexter mengatakan...

Tusukan gerigi daun tidak akan membangunkan hati, dan semaian padi tidak akan menumbuhkan kering air. Maka diri kita lah ujungnya.
Puisi yang bagus mas, maaf lama tidak ada kabar. Apa kabar?

bibicriwis mengatakan...

Kesanku di malam ini
Menoreh hati untuk segera bersimpuh
Bersujud dan tanpa banyak bertanya
Hingga kebimbangan itu lekang termakan keikhlasan hati tanpa cela.. (bagaimana kalau begitu saja..) :D

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

sangat menyentuh ! mengingatkanku untuk memohon maaf sebelum terlambat

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra