30 November 2010

Hadiah untukmu, Kakakku Tercantik

Getar nadiku semakin berdetak kencang ketika kutatap paras ayunya terbujur kaku, membengkak, membiru, hanya selang dan tabung oksigen terpasang membantu tubuh itu bernapas. Sesekali matanya mengeluarkan kerlingan air mata. Tangan dan tubuhnya gemetar, karena pemacu jantungnya yang terpasang kanan dan kiri. Berkali kulihat air mata keluar dari sudut matanya yang membengkak namun masih bisa melihat.
Ironis, alat berat ruang ICU semua terpasang di atas tubuhnya yang hanya bisa bergerak karena pemacu jantung, darah. Kini kerlingan air mata yang keluar dari sudut mataku, ketika kutatap lebih dalam sosok tubuh kakak wanita tercintaku. Doa yang hanya keluar sebuah gumaman untuk kakakku , yang telah terbujur selama 1 minggu. Disampingku, sesosok pria dengan tatapan yang dingin dan kaku memperhatikan secara lekat-lekat sesosok tubuh yang terbujur kaku di ranjang dengan napas terengah-engah dan sesekali mengeluarkan tetesan air mata diujung kedua matanya yang kian hari kian menutup karena bengkak.kakak tercantik ku, yang pria itu lihat dengan lekat-lekat.
“Mas, sabar yah, Dewi yakin Mba Anti akan sembuh dan tersenyum hangat di depan kita kembali.” Ucapku Optimis akan kesembuhan kakakku yang bernama Anti Arumi Ningsih namun dipanggil Mba Anti, pada pria itu yang tidak lain adalah suami kakakku.
“Ya, Mas juga yakin pasti akan ada mukjizat untuk Mba Anti, mas yakin ini hanya cobaan, mas juga yakin mas akan mampu melewati ujian ini,” Jawab Pria itu sebut saja Yoga ya Mas Yoga tepatnya, lelaki asal Padang namun karena kami lebih banyak keluarga Jawa maka Kami menggunakan sebutan jawa.
Wajahnya masih terlihat muda secara sepintas terlihat, tapi ketenangan dan kesabarannya membuat ia tampak lebih dewasa dari wajah dan umurnya. Betapa ia sungguh telaten merawat kakakku yang merupakan istrinya kini,ku hanya bisa melihat dan berdoa dan tidak dapat berbuat banyak. Ku tatap kembali kakakku, ku tak bisa bernapas lega, kutatap makin dalam kakakku makin bergetar jantungku tak kuasa menahan sedih, semakin dalam dan dalam, hatiku sedih tak sanggup menerima jikalau kakakku itu akan pergi meninggalkan kami semua yang merindukan lengsung pipi dan senyum manisnya kepada kami.

“Mas, gimana keadaan bayinya? “ tanyaku kepada Mas Yoga , “ bayinya Mas sama dek, Ia juga dalam kondisi yang kritis, Doakan saja semoga cepat membaik begitu juga Mba Anti, harapan Mas terdalam!” Jawab Mas Yoga yang merupakan seorang Tentara, air matanya pun tak sanggup lagi untuk keluar , karena sudah terkuras habis.

“Ya Mas, Dewi yakin semua akan kembali baik dan normal, ALLAH MAHA TAHU apa yang hambaNYA harapkan… AMIEN!” Jawab ku dengan hati yang sangat sedih.

Aku tak tahu apa yang terjadi, yang terjadi sebenarnya dengan Mbakku dan semua hal yang menimpa hidup Mbakku. Ku hanya tahu kalau Mbak ku mengalami kejang saat usia kandungannya memasuki kepala Sembilan, ketika itu kakakku telat diantisipasi untuk dibawa ke Rumah Sakit. Di situlah semuanya kesedihan dimulai.

Tak banyak kata lagi ketika ku mendengar kakakku terkulai tak berdaya, ku hanya menangis dan menangis. Ku tak menyangka, beberapa hari sebelum peristiwa itu aku baru saja berkirim pesan dengan kakakku. Terkejutnya aku mendengar semuanya, jangankan aku yang merasa terkejut semua saudaraku merasa sedih harus kehilangan kakakku.

Hemph….!!! Ku tak sanggup melihat penderitaan kakakku, ku palingkan wajah dan ku langkahkan kaki keluar untuk mengeluarkan air mata yang sudah tak terbendung di luar ruang ICU, tepatnya di kamar mandi. Itu tujuanku agar tak terlihat . Isak tangis yang keluar mungkin tak sebanding dengan perjuangan kakakku yang berusaha sembuh, sembilu kesedihan di hati semakin menjerit ketika ku membayangkan impian kakak wanitaku itu. Betapa besar harap hatinya, untuk menggendong bayi pertamanya, menyusui, mengajarkan berbicara, mendengarkan bayinya memanggil dirinya dengan sebutan Mamah. Semakin bergetar bibirku menjerit histeris melihat kenyataan yang ada.

Harapan yang dulu tinggi, kini mungkin tinggal asa. Kemungkinan hidup kakakku hanya tinggal 20%.Jantungnya kini dipacu, tekanan darahnya semakin tinggi, asupan gizi hanya melalui selang infus. Kakakku belum sempat merasakan bagaimana ia melahirkan, karena ia dioperasi, ia pun belum sempat mendengar bagaimana suara jeritan bayi pertamanya, karena sang bayi lemah dan langsung dirawat di incubator. Kami yang melihat semua, mempunyai harapan untuk kesembuhan keduanya.

“ Mas, Dewi pulang dulu yah, Insya ALLAH besok Dewi datang lagi sekalian bawa buku Doa-doa biar Mba Anti diberi kesembuhan. SEMANGAT ya Mas!” Ucap ku penuh rasa optimis atas kesembuhan Kakakku.

“ Ya, Dek. Terima kasih!” Jawab singkat Mas Yoga.

Akupun brgegas pulang, untuk istirahat.

*****

2 hari kemudian ketika ku berniat bersama keluarga besar ingin menjenguk kakakku kembali, kami dikejutkan dengan berita dari Mas Yoga pada pagi harinya.

“ Asalamualaikum tante, Anti sudah engga ada..jam 2 pagi tadi!” Telpon Mas Yoga kepada Tanteku. Histeris kami mendapat kabar dari Mas Yoga tersebut.

Tak kuasa menahan tangis, seketika itu aku terkulai lemas. Keluargaku bergegas menuju Rumah Sakit, sebagian juga mengurus pemakaman dan kedatangan jenazah di rumah duka. Aku hanya berdiam menjaga rumah membayangkan tubuh kakakku yang tiba di rumah dalam keadaan terbujur kaku. Harapan dan senyuman manisnya saat menyambut kehamilan bayi pertama semakin lama semakin pudar dalam ingatan dan pendengaranku.

Sirine ambulans pun sudah terdengar di gendang telingaku meski jaraknya masih sekian ratus meter. Ketika mobil telah sampai di depan rumah, mulai keranda mayat diangkut keluar disitulah tubuh kakakku terbaring. Terakhir kulihat wajahnya ketika akan di kafankan, begitu cantik, kini ia telah menjadi wanita sempurna, bisa memberikan harta yang paling indah seorang bayi yang ia tinggalkan.

Tepat 5 April 2009 sebelum bulan ramadhan tiba, ia menghembuskan nafas terakhir. Keajaiban pun datang, bayinya yang tadinya kritis, lambat laun mulai membaik kondisinya.

****

Kakakku tercantik ,kini bayimu telah tumbuh menjadi bayi yang mungil, lucu, pintar, dan cantik. Meski kau tak dapat memeluknya, merawat, dan menciumnya, tetapi suamimu tetap sabar merawatnya dan mencintai sepenuhnya, ia tak kenal lelah merawatnya.Merawat buah hati kalian yang telah didamba, kasih mu tak kan pernah putus kakakku.Aku pun selalu sayang padanya.

Inilah hadiah terindah untukmu kakakku tercantik AISYAH YASMIN PUTRI ARLAN. Harta tercantik yang kau tinggalkan untuk suamimu dan untuk kami orang yang selalu mencintaimu.semoga tenang disisi-NYA. :’)



Persembahan kecil untukmu yang kini telah disisi-Nya.
Rahma Dewi Hartati

Rahma Dewi Hartati mahasiswa Universitas Negeri Jakarta.

Nikmati kopi ini selengkapnya

20 November 2010

Rumah Tanah

Gerimis. Masih memberikan remahannya pagi ini. Seperti pagi kemarin. Membuat tanah pekaranganku basah. Aroma tanah di pagi hari merasuk ke hidungku. Kaca jendela kamarku pun berembun. Ada nama Tuhan disana. Terukir rabun. Walaupun aku telah mengusap kaca itu dengan kain, masih saja membekas di hati dan pikiranku.
Matahari telah lahir begitu sempurna. Membuat panas yang begitu menyengat kulitku. Tapi terik yang baik untuk mengeringkan buah tanganku. Aku menjejerkannya satu persatu disebuah balai bambu. Menjemurnya di bawah sinar matahari. Berharap besok bisa terjual di pasar. Sehingga uangnya bisa aku gunakan membeli motor untuk Bapak. Peluh keringat tiap hari menjadi bulir dari pori tubuhku. Bekerja untuk sebuah kehidupan yang kini aku jalani sekarang. Menjadi seorang pengrajin dari tanah liat.


Segenggam tanah liat kini berada di tanganku. Aku menatapnya penuh harap. Tanah liat itu seketika berubah menjadi sebuah rumah tanah. Hilir mudik satu keluarga berkeliaran di rumah itu. terdengar suara canda tawa di samping rumah itu. Begitu meruah. Bibir yang tiada henti-hentinya bersuara. Tiba-tiba hujan mengguyur. Semuanya berlari ke dalam rumah. Namun seketika meleleh perlahan karena terkena air hujan.


“selamat siang Kujes”.


Aku dikagetkan suara yang menyapaku. Rumah tanah yang aku lihat barusan menjadi tanah liat lagi. Kini berada di genggamanku.

“selamat siang Pak Hamur”.

Pah Hamur adalah pemilik usaha kerajinan tanah liat ini. Aku bekerja kepada beliau sudah lima tahun. Ia begitu mempercayaiku sebagai pekerjanya. Katanya aku rajin, ulet, dan pekerja keras. Ia sangat baik kepadaku, telah menganggapku sebagai anaknya sendiri.

“Kok kamu masih kerja Jes, bukannya Bapak sudah liburkan selama seminggu ini”.
“ohh…iya Pak.”
“mestinya kamu itu sudah pulang ke kampung halamanmu. Kasihan Bapakmu sendiri disana.”
“iya Pak. Kujes kesini mau kerja. Sekalian besok pagi mau menjual ke pasar barang-barang yang sudah dicat semalam.”
“kerja apa lagi?”
“e…e…e…anu Pak. Kujes mau buat satu lagi. Tapi tidak untuk dijual.”
“tidak untuk dijual?”
“iya Pak. Kujes mau buat untuk Bapak di kampung.”

Seminggu lagi lebaran. Semestinya aku pulang ke Bapak. Tetapi aku harus membuatkan sesuatu untuk Bapak; sebuah rumah tanah. Sudah lama aku ingin membuatkannya. Baru kali ini ada waktu untuk membuatnya. Lagipula Pak Hamur mengijinkan.

Puasa tahun ini biasa saja bagiku. Tidak ada yang istimewa. Kecuali bertemu dengan Bapak di kampung. Sudah lama tidak bertemu dengannya. Bagaimana rupanya sekarang. Berapa usianya sekarang. Apa tubuhnya sudah dipenuhi keriput yang menjalar. Apa usianya sudah mencapai tujuh puluh tahun. Atau mungkin, apa ia masih mengenaliku. Ah Bapak, kau memeras keringat tiap hari hanya untukku. Naik sepeda puluhan kilometer ke sawah untuk menggarap tanahmu. Untuk anakmu. Aku.

Bahagia meliputi hatiku hari ini. Berharap bisa menemui Bapak di kampung. Uang menggumpal di kantongku. Untuk Bapak. Beli motor. Agar tidak susah lagi mengayuh sepeda tuanya ke sawah. Bukan hanya itu, sebuah rumah tanah dari tanah liat akan aku berikan kepadanya. Agar Bapak bisa melihat hasil jerihku selama ini.

Aku menatap rumah tanah itu di depanku. Telah aku bungkus plastik kemarin agar tidak ada yang menyentuhnya. Apalagi catnya belum terlalu kering. Warnanya menari-nari. Membuatku tersenyum sendiri. Di beranda rumah tanah itu aku buatkan juga patung manusia. seorang Bapak dan anak lelakinya yang sedang minum teh. Anak lelakinya itu menuangkan teh ke dalam cangkir Bapaknya. Tangan hangat sang Bapak mengambil cangkir itu. perlahan. Cangkir itu bergoyang-goyang. Serasa tangan keriput itu tidak kuat lagi mengangkat secangkir teh. Setua itukah Bapak sekarang.

Bapak mencoba berdiri. Beranjak dari tempat dudukn

aku berteriak karena terkejut. * Cemas. Bapak terjatuh di tangga. Sedangka *n aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ia menco *bauruni tangga beranda rumah. Saat menuruni tangga tengah, ia terjatuh.

“Bapaaaaaaaakkkk………!”n Kujes, anakku”.
“Bapak baik-baik saja kan? Apanya yang sakit?”
“sudah. Bapak baik-baik saja. Hanya.�F/b.static.ak.fbcdn. �
“lagipula Bapak mau keman *a?”
“Bapak mau kesa ngga saja kok teriak kencang sekali.”
“Kujes cemas kepada Bapak”.
“sudah Bapak katakan, tidak usah cemas. Bapak baik-baik saja. Tenanglah.”
“lagipulaana?”
“di rumah ibumu!”
“rumah ibu?”
“iya. Sudah lama Bapak tidak mengunjungi rumahnya. Lagipula pasti rumput liar tumbuh subur di rumahnya. Sekalian Bapak mau membersihkannya. Kamu juga tidak pernah lagi mengunjungi ibumu. Kau terlalu sibuk dengan pekerjaanmu.”

Aku bisu mendengar perkataan Bapak. Sudah lama aku tidak mengunjungi makam ibu. Entah sudah berapa tahun. Rupa ibu pun telah samar bagiku. Bahkan aku lupa kenangan terakhir dengannya. Sudah bertahun-tahun ia beridiam diri di dalam pusaranya.

“Kujes……!”
“iya Bapak”.
“mengapa melamun?”
“aku……teringat Ibu, Bapak”.
“kamu harus berjanji”.
“janji apa Bapak…?”

Mobil ngerem mendadak membuatku terbangun. Mataku langsung mencari tahu. Ternyata sudah sampai di tempat tujuan. Aku memeriksa barang-barang bawaanku sebelum turun. Terutama rumah tanah. Masih utuh.

Berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di rumah. Itu sudah biasa aku lakukan. Apalagi kini jalanan sudah beraspal. Jadi begitu mudah menapakinya. Begitu banyak perubahan yang aku lihat. Kebanyakan rumah warga sudah berpagar walau masih terbuat dari bambu. Lampu jalan pun mulai ada menghiasi jalanan. Tetapi pepohonan rimbun yang sering aku tempati bermain petak umpet bersama teman-temanku waktu masih kanak-kanak dulu, kini hanya bisa aku lihat di dalam lukisan saja. Begitu menghijau. Tetapi tidak hidup.

Kakiku berhenti melangkah di depan sebuah rumah tua. Berpagar bambu. Lumut menjalar. Entah sudah berapa lama bambu ini tidak dicat. Pekarangan yang begitu hijau oleh kehadiran rumput liar dan semak-semak. Aku menatap rumah itu dari segala sisi. Tidak banyak yang berubah, hanya saja rumah yang ada di hadapanku ini semakin menua saja. Seperti penghuni di dalamnya. Bapak.

Aku mendorong pintu pagar bambu itu. Memasuki pekarangannya. Menginjak rumput-rumput liar. Terdiam sejenak di beranda rumah. Ingin rasanya memeluk rumah ini seperti memeluk rumah tanah yang aku lakukan sekarang. Begitu rindu menguasaiku. Hingga tetes airmataku meruah berjatuhan di lantai. Tak ada kata yang bisa aku ucapkan. Ibarat anak TK yang baru belajar mengenal abjad, belum bisa merangkai kata. Pintu rumah yang ada di hadapanku kini rasanya begitu jauh dari tatapanku.

Aku mencoba melangkahkan kaki. Perlahan. Tanganku begitu nari ingin mengetuk pintu rumah itu. Saat kepalan jemariku ingin mengetuknya, tiba-tiba saja pintu itu terbuka. Aku kaget mendapati seorang lelaki tua yang begitu meriput. Kedua matanya seakan tidak terlihat lagi. Begitu jelas terdengar hembusan nafasnya. Rumah tanah yang ada di dekapanku terjatuh ke lantai. Retak.

Suara alam begitu riuh di kampung. Bukan hanya itu, suara takbir pun bertalu-talu. Setelah sekian lama baru aku menikmatinya. Tentu saja dengan Bapak. Di beranda rumah tua ini. Gerimis perlahan membasahi tanah. Aku teringat saat kanak-kanak dulu sering bermain di bawah gerimis, di pekarangan rumah.

“sudah melamunnya. Minum tehnya dulu. Biar lebih hangat.”

Suara Bapak mengagetkanku. Ia menuangkan teh ke dalam cangkirku. Bersama kami minum teh di bawah malam yang semakin menua. Kenangan begitu renyah bercerita. Riuh tak terkira. Memenuhi seisi rumah hingga ke luar pagar.

“Bagaimana Bapak tahu kalau aku akan datang?”
“bau tanah.”
“bau tanah?”
“manusia itu kan terbuat dari tanah. Dan kamu itu manusia. jadi terbuat dari tanah.”

Aku mengeluarkan gumpalan uang. Menaruhnya di atas meja. Tak sedikitpun raut heran di wajah Bapak. Ia hanya memperlihatkan ekspresi yang biasa saja. Ternyata Bapak tidak berubah. Lalu, Bapak mendorong perlahan gumpalan uang itu kearahku.

“tidak usah. Untuk kamu saja.”
“tapi……”
“kamu lebih membutuhkannya dari pada Bapak.”
“sebenarnya aku juga ingin memberikan Bapak rumah tanah itu, tapi sudah retak tadi.”
“tidak apa-apa. Masih bisa diperbaiki.”
“tapi……”
“sudah. Minum tehnya. Keburu dingin.”

Bapak selalu begitu. Tidak mau mempersoalkan sesuatu hal yang sepeleh. Menganggap semua hal bisa diselesaikan. Namun, saat aku meminum teh itu, ada yang aneh. Bukan rasa hangat yang merasuk ke dalam tubuh. Tapi cangkir yang aku gunakan. Aku memperhatikannya sesaat. Cangkir ini bukan cangkir yang biasa digunakan di rumah ini. Ini terbuat dari tanah liat. Walau bentuknya tidak begitu halus dan rapi. Begitupun dengan cangkir yang digunakan oleh Bapak. Temaram malam yang membuat mataku sedari tadi tidak menyadarinya.

“Bapak sudah menduga, kamu pasti heran.”
“cangkir ini……”
“iya. Itu cangkir terbuat dari tanah liat. Bapak yang buat.”
“Bapak yang membuatnya?”
“iya. Walau tidak sebaik pekerjaaan kamu.”
“untuk apa?”
“sudah lama Bapak menanti saat ini. Duduk bersama anakku menyeduh teh. Dengan cangkir ini. Aku juga ingin merasai kehidupan anakku yang sebenarnya. Dan terwujud malam ini.”

Begitu lama Bapak menantiku meminum teh dengan cangkir yang dibuatnya sendiri. Melepas kerinduannya dan merasai kehidupan anaknya yang berpeluh dengan tanah. Ah Bapak, ingin sekali menuangkan teh ke dalam cangkir ini, menyajikannya untukku.

“Kujes, kamu mesti ingat baik-baik perkataan Bapak malam ini.”
“apa itu Bapak?”
“Nak, manusia itu berasal dari tanah dan akan kembali keasalnya itu lagi; tanah. Tanah itu jika tidak disiram, akan kering. Namun jika disiram secara berlebihan, malah tidak bagus. Tanah yang subur, apapun bisa tumbuh disana. Sebaliknya, tanah yang tidak subur, hanya kerugian yang didapat. Sederhana saja. Bukankah manusia itu lahir di tengah, bukan di atas ataupun di bawah. Siramilah dirimu tiap hari, Nak. Sejukkanlah hatimu.”

Malam yang begitu membuatku bahagia diantara malam-malam sebelumnya. Berbincang dengan Bapak di bawah malam. Kadang aku perhatikan wajahnya begitu menua. Kedua matanya tak sebening dahulu. Tangannya begitu kasar karena memeras keringat tiap hari. Aku baru tahu Bapak sudah setua ini. Dan ternyata, di bawah gerimis malam ini adalah terakhir aku bersama Bapak.



Makassar, 26 Agustus 2010
Ernawati Rasyid

Ernawati Rasyid Lahir di Pinrang, 1987. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Makassar. Aktif dalam komunitas Kantong Sastra Kalimantan. Cerpenis Terbaik Sastra Award 2009 HMPS SASINDO. Karyanya dimuat dalam antologi cerpen Panggil Aku Diana, Antologi Pohon Kopi 1 dan Antologi Pohon Kopi 2.

Nikmati kopi ini selengkapnya

07 November 2010

Malam Peramu Mimpi

Bagi seorang manusia, malam berjelaga adalah kumpulan kaca yang retak. Menyerak asa yang tersamar ke penjuru hidupnya. Namun bagi peramu mimpi, malam adalah kesenyapan yang mengabarkan ketenangan, menyelipkan aroma bahagia selaksa di alam mayapada.
Kalau boleh memilih, maka aku ingin meletakkan ramuan bahagia di tiap-tiap mimpi manusia. Tapi, aku tak kuasa, sebab manusia itu makhluk terpintar di dunia yang bisa mempengaruhi, selain tentu mereka juga termasuk terbodoh di dunia karena mudah dipengaruhi. Maaf, ini hanya penilaianku sebagai peramu mimpi selama adanya manusia di muka bumi ini.

Ya, aku khusus menanak berbagai ramuan untuk mimpi-mimpi manusia. Terkadang aku bingung, apa yang dirisaukan manusia-manusia itu?, udara, tanah, air semua gratis, lantas apa yang mereka pusingkan?. Maaf , ini hanya pengamatanku dari tiga abad yang lalu.

Apapun, meramu mimpi adalah sebuah keasyikan tersendiri, setidaknya aku bisa membangun imaji, menyalakan semangat, memantik gurat bahagia di liang sukma. Tapi, bisa juga kebalikannya, terkadang aku menyurutkan nyali, meredupkan senyum dan menjelagakan bias wajah mereka di pagi harinya. Maaf, bukannya jahat, tapi bukankah manusia lebih jahat?, entahlah.

Pernah aku keasyikan, saat seorang koruptor yang hendak tenggelam dalam mimpi, di sebuah hotel berbintang tentunya. Segera kuramu gelisah di sukmanya, dan lihatlah ia akan berguling-guling tak tentu arah di atas tempat tidur, semacam cacing kepanasan. Tapi, walau geram menelingkupi, tak sampai hati juga melihatnya tersiksa, maka kubiarkan ia lelap sekejap dalam mimpi penuh kehampaan, lantas lihatlah gurat hitam yang melingkar di bawah kelopak matanya di esok harinya. Nah!, bisa kau lihat sendiri kan siapa yang lebih jahat?. Maaf , ini pengalamanku kemarin sore.

Pernah suatu saat aku mendengar keluh, telingaku terguyur setumpuk perih. Apalah mampuku? Saat aku harus menitipkan mimpi pulas selepas manusia serigala memangsa, juga pada seorang pejabat di dalam hotel 'merah', juga pada kupu-kupu malam yang meringkuk di sudut-sudut remang, apakah aku layak menitipkannya?. Entahlah, entahlah dan entahlah. Maaf, aku sebenarnya kecewa.

Selalu, hingga kini. Derap langkah-langkah itu menghentak di reruang penuh dengan lampu warna-warni, sesak dengan manusia yang bermandi keringat, meliuk- liuk tubuh mereka dalam hentakan musik yang dimainkan DJ. Kerap hingga pagi dan selepasnya semua berujung pada mimpi yang terpaksa kuberikan, karena aku kasihan pada penelan pil terlarang itu, sekaligus aku ingin manusia belajar dari hal ini. Maaf, jika yang kulakukan salah menurutmu.

Kemarin, aku meramu mimpi untuk seorang lelaki tua yang kerap kerkopiah ke mana saja. Mimpi yang kusemat untuknya adalah mimpi naik haji. Entahlah, semoga bila apa yang ia cita itu tak kesampaian di alam nyata, setidaknya sudah ia rasa di alam mimpinya. Maaf, hanya ini mampuku.

Saat ini, baru saja aku menuangkan mimpi pada sepasang muda mudi yang kasmaran, mereka kupertemukan di alam mimpi, entahlah, kuharap mereka lekas-lekas membangun rumah tangga yang bahagia. Setidaknya di alam mimpi mereka sudah merasakannya. Maaf, inilah aku.

Tadi sempat aku iseng, akan kubuat kesamaan antara mimpi dengan nyata. Tadi sempat kulihat Dina menggantung pakaiannya, kelihatannya pakaian untuk berangkat kuliah besok pagi. Sebuah batik berwarna hijau muda dengan padanan rok hitam. Dan kini dihadapanku adalah si Feri, pemuda yang menimbun cinta pada si Dina. Di mimpinya, si Dina menerima cintanya dengan berpakaian batik hijau muda dengan rok hitamnya, persis dengan pakaian yang akan dikenakan Dina esok hari. Hahaha, entah apa yang terjadi besok. Yang pasti Feri akan terperanjat melihat sosok Dina. Hahaha..! Maaf, beginilah aku terkadang.

Tapi, satu hal yang buatku bahagia, tatkala masih ada jiwa-jiwa malaikat di sekitarku. Ya!, merekalah manusia malaikat, hati mereka begitu bercahaya, aku merasakannya. Memang ada kelelahan menggelayuti mereka, setelah penat seharian menabur benih makna, cita dan cinta. Merekalah penikmat ramuan terbaikku, Ramuan berisi kenikmatan akan sebuah mimpi, berisi keindahan mayapada yang akan memompa semangat mereka untuk berbuat lebih lagi keesok harinya. Jadi maaf, bila ramuan terbaikku hanya untuk yang terbaik.

Kalau sedari tadi aku mengatakan kata ”maaf”, sebenarnya maaf itu untukmu kawan, kuceritakanlah padamu waktu itu dirimu terselubung kegalauan, tersemat keresahan, air matamu tak terbendung lagi, segera akan terderai gerimis. Saat itu jiwamu retak. Maaf, aku menyesal tak menuangkan mimpi indah di malam terakhirmu. Sekali lagi maaf, karena aku hanya Peramu mimpi, bukan peramu takdirmu.




01 - 10 Mei 2010
Oleh: Muhammad Anhar Husyam


Muhamad Anhar Husyam lahir di Siantar, 10 Mei 1985. AKtif di Komunitas Pecinta Membaca dan Berkarya (KOMA)Sumatera Utara dan Komunitas PEnulis Muda Sumatera Utara

Nikmati kopi ini selengkapnya

02 November 2010

Malam Dari Atas Tower

Entah sudah berapa lama aku duduk meringkuk di sini. Sudah ada dua atau tiga jam ini. Atau bahkan mungkin lebih. Aku selalu seperti memiliki waktuku sendiri. Waktu yang seakan berputar lebih cepat daripada yang ada di bawah sana. Sekedar untuk tidak mengatakan bahwa waktuku di sini berhenti karena akan terdengar terlalu hiperbolis.

Bukannya mengada-ada, tak jarang aku baru turun setelah mendengar kokok ayam jantan yang pertama, padahal aku sudah merangkak naik selepas apel malam. Tentu saja setelah masuk kamar, mengganti baju seragam yang rasanya sudah begitu lengket dengan kulit, mengagumi perut six pack-ku di kaca sebentar, mendengarkan sambil lalu gerutuan rutin Dadang teman sekamarku itu, untuk kemudian membuka jendela dan mengendap-endap keluar.

Jangan bermimpi keluar asrama di hari yang sudah begini malam melalui jalan yang sewajarnya. Setelah terompet tanda jam malam dibunyikan pukul 23.00, segala kegiatan memang dilarang. Kecuali tidur, mencoba tidur, ataupun berpura-pura tidur. Sedangkan saat aku melompat jendela, pukul 23.00 biasanya hanya tinggal beberapa menit lagi.

Petugas piket asrama di depan pintu utama pasti sudah akan mendelik marah, melarang, bahkan sebelum mendengar permintaan ijin untuk keluar asrama barang sebentar. Apalagi jika hanya untuk sekedar berlama-lama duduk di atas tower seperti ini. Aku bisa dipikirnya gila sehingga perlu menghadap Bu Sofie untuk duduk berjam-jam di ruang konseling yang justru bisa membuat gila karena saking panasnya itu.

Bisa kubayangkan apa yang akan terjadi jika aku sampai tertangkap basah sedang keluar jendela, berjalan mengendap-endap di semak-semak, merangkak menaiki kerangka besi tower, duduk di atas tower, menuruni kerangka tower, mengendap-endap di semak-semak menuju asrama, ataupun saat masuk kembali melalui jendela kamar. Memang tulangku tidak akan sampai patah, badanku juga tidak mungkin akan lebam-lebam, suatu hal yang sangat mungkin terjadi jika aku bersekolah di sini setidaknya tiga atau empat tahun yang lalu.

Paling banter pipiku akan merah karena tamparan, atau kulitku lecet-lecet karena disuruh merayap oleh petugas piket. Lalu esok paginya aku akan disuruh berdiri menghormat bendera sampai keringat yang bercucuran segede-gede jagung. Kalau tidak lari keliling lapangan setelah apel pagi sampai nafas ngos-ngosan, hampir pingsan. Atau push up, jalan jongkok , merayap, sambil dilihat oleh banyak orang yang menertawakan kekonyolan ini.

Enteng.

Paling pembinaan fisik itu saja. Apalagi aku kan sekarang sudah tingkat dua, senior, siapa juga yang berani mengusik. Yunior hanya bisa melihat, suka-suka senior mau berbuat apa. Pasal setan sedikit banyak masih berlaku di sini, sekarang ini. Pasal satu, senior tidak pernah salah. Pasal dua, jika senior salah lihat pasal satu.

Aman, kan.

Lagi pula, belum pernah kudengar seorang Taruna dikeluarkan hanya gara-gara kesukaannya duduk di atas tower air malam-malam.

Resiko sekecil itu benar-benar tak sebanding dengan malam yang selalu terlihat begitu istimewa di sini.

Lihat bintangnya, langit hitamnya.

Rasai hembusan anginnya.

Dengarkan suara-suara binatang malamnya.

Belum lagi serpihan-serpihan kehidupannya.

Apalagi manik-manik cerita yang bermuara pada asrama putri di sebelah mushola.

Saat sedang berada di atas tower seperti ini, aku suka berangan-angan menikmati silluet Astuti yang terlukis di balik tirai jendelanya. Kamar nomor 14. Lantai bawah, paling ujung belakang. Silluetnya yang sedang duduk di meja belajarnya, entah untuk belajar apa. Atau mungkin sedang melamun. Melamunkan aku? Asal jangan Kak Damar, alumni yang tampan nan cemerlang otaknya, yang setiap kali menjadi asisten praktikum selalu dicuri pandang oleh Astutiku itu.

Dengan sedikit efek dramatisasi, dan agak banyak halusinasi, lalu akan kugambar dengan jari telunjukku, tepian silluet juwita pujaan hatiku itu. Menyusur mulai dari belakang punggungnya, naik pada kepalanya yang sedikit menunduk, berhenti sebentar pada hidungnya yang membuatku kedanan. Hidung yang selalu ingin kulumat, yang selalu mengingatkanku pada es krim cone yang dingin, lembut, manis, nikmat, menyehatkan, tinggi kalsium ….

Hidung yang sebenarnya masih agak jauh dari mancung.

Dari hidung, turun ke mulut mungilnya, yang selalu mencibir saat menangkap mataku sedang terpaku pada wajahnya. Lalu jari telunjukku akan ke dagunya. Dada. Bahkan benjolan dadanya pun, ukuran 34 kurasa, masih kurang menarik bagiku jika dibandingkan dengan hidungnya itu. Pernah kubaca, aku lupa di mana dan dalam kajian apa, hidung adalah lambang phallus. Aku tidak tahu apakah ini pertanda ketidaknormalanku karena telah menyukainya, bagian terindah dari tubuh Astuti itu.

Sampai sekarang pun aku belum juga berkesempatan menanyakan ini pada Bu Sofie.

Sejak pertama melihatnya kepayahan dengan pakaian doreng, sepatu PDL kegedean, dan ransel tentara berisi pasir di punggungnya, aku sudah jatuh cinta. Hidungnya yang basah oleh keringat terlihat sangat indah. Seperti berlian yang berkilauan. Bersinar.Kinclong. Gadis itu seketika membuatku berhenti mengutuki Bapak yang telah memaksaku mengubur mimpi untuk mempelajari bahasa Perancis yang romantis itu.

Mau jadi apa besok setelah lulus. Paling-paling menganggur. Carinya itu yang pasti-pasti sajalah. Sekolah yang pasti lulus, pasti jadi Pegawai Negeri. Sekolahnya cepat, dua tahun selesai. Bayarannya murah. Pakai seragam, gagah.

Begitu kata Bapak.

Bapak sudah masukan uang sepuluh juta. Tes masuknya hanya formalitas saja.

Saking begitu khawatirnya dengan masa depanku, Bapak rupanya menjadi lupa kalau anaknya ini selalu menjadi yang terpandai di kelasnya. Tanpa harus merasa sombong, dengan menutup mata pun sebenarnya aku bisa mengerjakan soal-soal tes masuk itu dengan cukup mudah.

Apa pun itu, perempuan cantik itu yang membuatku menyadari, memang benar akan selalu ada hikmah di balik bencana.

Sayangnya, hanya gelap di kamarnya kini.

Lampunya tidak menyala. Sehingga aku pun menjadi sulit berhalusinasi ada siluetnya tertera di jendela kamarnya.

Astuti sudah tidak lagi berada di situ.

Menyadarinya, kurasakan dadaku berat. Tidak rela dengan kenyataan ini.

….

Ya sudahlah. Nikmati saja serpihan-serpihan kehidupan yang ada, yang tersisa setelah Astuti.

Kuedarkan pandanganku. Malam sudah lelap. Hanya satu dua kendaraan lewat di jalan raya depan gerbang utama. Gerbang yang membatasi kami dengan dunia luar, mengangkangi kebebasan kami. Yang hanya terbuka buat kami setiap Rabu sore sampai pukul 21.00 dan Sabtu sore sampai Minggu pukul 21.00. Kecuali kalau kami bisa mengakali petugas dengan alasan ini itu sehingga kami bisa pergi diluar hari yang telah ditentukan.

Gerbang yang mendongak angkuh. Untuk bilang: hanya yang terpilih yang bisa masuk.

Salah satunya aku, dengan uang sepuluh juta Bapak. Oleh ambisi Bapak.

Dua orang satpam duduk mengobrol di pos jaga. Televisi menyala. Dua anjing bergelung di bawah tiang bendera di lapangan upacara. Tidur, tidak mengobrol. Terakhir kali tiang bendera itu menjadi saksi bagi seorang yuniorku yang malam-malam harus berguling-guling dari tepi lapangan, tanpa putus, sampai menyentuh tiang bendera karena melarikan diri ke dalam kampus saat berkelahi dengan preman stasiun. Jika hanya berkelahi, tapi mau dengan gagah berani menghadapi preman stasiun itu walaupun kalah sekali pun, tanpa melarikan diri ke dalam kampus, hukumannya hanya akan merayap separuh lapangan. Kampus ini tidak mendidik Taruna pengecut, demikian kata petugas piket yang memberi sanksi sambil berkacak pinggang tepat di samping tiang bendera. Jadi, setengah lapangan adalah untuk kepengecutannya.

Rumput-rumput di lapangan upacara itu sudah begitu akrab dengan sol sepatu kami. Mereka saling menyapa, menanyakan kabar, kadang bergosip, ketika saling bertemu saat apel. Tiga kali dalam sehari, empat kali jika senam pagi ikut dihitung. Belum lagi jika ada latihan drumband, berolah raga bersama, ataupun ada hal khusus lainnya. Juga entah sudah berapa kali putaran lapangan ini kami kelilingi. Mungkin tapak kaki kami sampai sudah tercetak pada jalan aspal di sekeliling lingkar luarnya.

Tidak hanya jalan di sekitar lapangan, tapi sepanjang jalan di dalam kampus ini. Ratusan, ribuan, jutaan kali kaki-kaki kami menjejak jalanan beraspalnya. Dalam berbagai macam gaya. Dari lari, berbaris, sampai dengan jalan sambil berjongkok, kadangkala setengah jongkok. Walhasil, betis kami besar-besar, karena kaki terlalu akrab dengan tanah. Sepatu juga boros, dua tahun di sini, empat kali aku berganti sepatu. Satu sepatu per semesternya.

Di belakang sana, di antara banyak pohon tua yang besar dan menyeramkan, adalah tempat kami melakukan kegiatan ekstrakurikuler di sore hari. Studio musik, ruang karaoke sekaligus arena billyard, wall climbing, lapangan voli, lapangan sepak bola, lapangan basket, bahkan ada juga lapangan futsal di gedung olah raganya. Kurang apa, kata Direktur kami, kampus sudah menyediakan fasilitas lengkap untuk menghibur Taruna. Tidak ada alasan untuk mati bosan di sini.

Memang tidak ada yang mati bosan di sini, karena apa yang terjadi dengan mencuri waktu di balik pepohonan itu, di ruang kelas saat pelajaran kosong, di kamar mandi, di kamar 27, di pojok-pojok tergelap kampus. Penyakit senioritas yang masih saja cukup menyenangkan untuk diwariskan. Tentu saja dengan kadar yang semakin ringan.

….

Dan akhirnya aku pun hanya bisa tertawa. Meski getir sehingga terdengar sumbang. Memang benar, kehidupan di sini baru terasa indah saat diceritakan sebagai kenangan.

Indah. Memang indah.

Apalagi hidung Astutiku itu yang terindah itu.

….

Sedari tadi semilir angin malam mengenai kulit tubuhku yang terbuka. Dingin bahkan menembus kaos oblongku yang tipis. Tidak sampai membuatku mengigil, sehingga tak jua membuatku bergeming turun. Kembali pada kehidupan nyata.

Tidak perlu buru-buru. Aku masih betah di sini. Apalagi besok aku sudah harus keluar kampus. Semua urusan sudah selesai. Asrama juga sudah sepi, tinggal aku saja yang masih belum pergi.

Aku sudah harus pulang. Lusa sudah harus masuk kerja. Sekali lagi Bapak sudah mempersiapkan semuanya buatku. Bahkan jauh hari sebelum aku wisuda, beliau “sudah menyelesaikan urusannya dengan Bapak Bupati”, sehingga memungkinkan aku bisa langsung bekerja dalam jangka waktu kurang dari seminggu setelah aku memakai seragam kebesaran dan disalami Pak Menteri sebagai lulusan terbaik di bawah teriknya matahari lapangan Monas. “Urusan dengan Bapak Bupati” yang bahkan sudah dimulai sebelum aku mengambil formulir pendaftaran untuk masuk di sini dua tahun yang lalu. Untung saja aku sekolah hanya dua tahun, Bupatinya belum ganti, mati, atau ditangkap polisi karena korupsi.

….

Sialan.

Hanya dari atas sini Bapak tidak terlihat. Hanya hidung Astuti yang indah.
****

Naomi SK
16 Maret 2010: cerita untuk Sang Pemanjat Tower


Naomi SK biasa menggunakan nama pena Biru Langit tinggal di Jl. Semeru No. 3 Tegal

Nikmati kopi ini selengkapnya

02 Oktober 2010

Undangan Menulis Antologi Pohon Kopi 4


Menyambut bulan bahasa dan ulang tahun Kopi Sastra yang kedua. Kopi Sastra mengundang para penulis puisi yang berdomisili di Bogor untuk ikut memublikasikan karyanya dalam Antologi Pohon Kopi 4: Bahasa adalah Kami.


Kirim puisi beserta informasi lengkap Anda ke antologipohonkopi@kopisastra.co.cc
dengan subjek APK4
Paling lambat 10 Oktober 2010 pukul 23:59 WIB


Syarat dan Ketentuan
1. Penulis adalah Warga Negara Indonesia yang berdomisili di Bogor, Jawa Barat.
2. Puisi merupakan karya asli penulis dan bukan saduran.
3. Puisi bertemakan Pendidikan dan atau Kebahasaan.
4. Puisi dikirimkan sebagai Attachment dalam format .doc, .docx, .rtf, atau .odt dengan nama file: APK4 diikuti Nama penulis dan judul puisi.
5. Penulis boleh mengirimkan lebih dari satu puisi.
6. Penulis tidak mendapatkan royalti, namun berhak mendapatkan satu buku Antologi Pohon Kopi 4

CP:
Nunu (0857 8118 7826)
Havid Yazid (0856 9287 8295)
Helmy F. (0856 9343 7066)
Janwar (08989 482 555)

Nikmati kopi ini selengkapnya

10 September 2010

Selamat Idul Fitri

Selamat idul fitri, Bumi
Maafkanlah kami selama ini
tidak semena-mena memperkosamu

Selamat idul fitri, langit
maafkanlah kami selama ini
tdak henti-hentinya kami mengelabukanmu

Selamat idul fitri, mentari
maafkanlah kami selama ini
tdak bosan-bosan kami mengaburkanmu

Selamat idul fitri, laut
maafkanlah kami selama ini
tdak segan-segan-hentinya kami mengeeruhkanmu

Selamat idul fitri, burung-burung
maafkanlah kami selama ini
tdak putus-putus kami memberangusmu

Selamat idul fitri, tetumbuhan
maafkanlah kami selama ini
tdak puas-puas kami menebasmu

Selamat idul fitri, para pemimpin
maafkanlah kami selama ini
tdak habis-habis kami membiarkanmu

Selamat idul fitri, rakyat
maafkanlah kami selama ini
tdak sudah-sudah kami mempergunakanmu

(1410/1990)
A. Mustofa Bisri

Nikmati kopi ini selengkapnya

03 Agustus 2010

Sayembara Menulis Novel DKJ 2010

Untuk merangsang dan meningkatkan kreativitas pengarang Indonesia dalam penulisan novel, Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali menyelenggarakan Sayembara Menulis Novel. Lewat sayembara ini DKJ berharap lahirnya novel-novel terbaik, baik dari pengarang Indonesia yang sudah punya nama maupun pemula, yang memperlihatkan kebaruan dalam bentuk dan isi. Adapun persyaratannya sebagai berikut:

Ketentuan Umum
• Peserta adalah warga negara Indonesia (dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk atau bukti identitas lainnya).
• Peserta boleh mengirimkan lebih dari satu naskah.
• Naskah belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun, baik sebagian maupun seluruhnya.
• Naskah tidak sedang diikutkan dalam sayembara serupa.
• Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia yang baik.
• Tema bebas.
• Naskah adalah karya asli, bukan saduran, bukan jiplakan (sebagian atau seluruhnya)

Ketentuan Khusus
• Panjang naskah minimal 150 halaman kuarto, 1,5 spasi, Times New Roman 12
• Peserta menyertakan biodata dan alamat lengkap dalam lembar tersendiri, di luar naskah
• Empat salinan naskah yang diketik dan dijilid dikirim ke:
Panitia Sayembara Menulis Novel DKJ 2010
Dewan Kesenian Jakarta
Jl. Cikini Raya 73
Jakarta 10330

• Batas akhir pengiriman naskah: 30 September 2010 (cap pos atau diantar langsung)

Lain-lain
• Para Pemenang akan diumumkan dalam Malam Anugerah Sayembara Menulis Novel DKJ 2010 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada pertengahan Januari 2011.
• Hak cipta dan hak penerbitan naskah peserta sepenuhnya berada pada penulis.
• Keputusan Dewan Juri tidak dapat diganggu gugat dan tidak diadakan surat-menyurat.
• Pajak ditanggung pemenang.
• Sayembara ini tertutup bagi anggota Dewan Kesenian Jakarta periode 2009-2012.
• Maklumat ini juga bisa diakses di www.dkj.or.id
• Dewan Juri: Agung Ayu, Anton Kurnia, dan A.S. Laksana

Hadiah

Pemenang utama Rp. 20.000.000
Empat pemenang unggulan @ Rp. 7.500.000

Nikmati kopi ini selengkapnya
Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra