30 Desember 2008

Sepi Ini Harapanku

Aku telah malihat semuanya ketika semua hal balum dapat melihat
Aku merenung dalam kesendirian
Meresapi kesunyian yang senyap
Yang memelukku dan menjamah tubuhku
Yang meracuni hatiku dan ruang tidurku

Aku beranjak menatap dunia demi menyaksikan jutaan mata yang tertutup
Yang tak banyak orang merayu ataupun beradu mulut
Yang tak banyak orang tertawa ataupun menangis
Dan memang benar adanya

Anginlah yang sedang merayu air dengan belaiannya yang lembut
Bukan si Udin yang merayu Maemunah dengan motor bekasnya

Dan memang benar adanya
Daunlah yang berteriak kebebasan
Bukan si Asep yang salah berdemo

Pagi tadi si Asep semangat sekali berteriak dengan orang-orang kembarannya
Tanpa berfikir setengah kali pun
Berkata di keramaian bahwa pemerintah tak becus ngurus
Dan presiden harus diganti
Gara-gara minyak tanah langka di masyarakat
Padahal presiden tak pernah masak

Siang tadi Maemunah termakan rayuan si Udin
Bermodalkan motor bekas si Udin dapat merasakan nikmatnya perawan
Udin puas lalu tertawa dan Maemunah menangis
Seperti kisah si Datuk dan Salimah
Atau ko Ahong dan Maslihah

Miris hati mendengar kenyataan itu
Tak berani aku buka mata lebar-lebar siang nanti
Tapi rasanya aku bukan manusia
Jika aku tak mau melihat dunia siang nanti

oleh
Qopal

4 komentar:

Umi Rina mengatakan...

Pernah naik kereta Jabodetabek khan?
Ada yg sudah mandi dan ada yg belum...
Ada yg asyik tidur dan ada yg asyik merokok
Ada yg bawa tas kerja, tas sekolah,barang dagangan
Dan ada pula yg bawa kambing...

Sudah demikian adanya,
Tetap saja banyak orang berebutan naik
Walau baju tercampur bau
Yang penting hati tak perpengaruh
Sampai tujuan dengan selamat... :)

MATA HATI mengatakan...

terkadang kita kita hanya punya nyali menunduk,andai memalingkan pandangan adalah sebuah kejahatan...

imamwahyudi mengatakan...

Kata Sutardji Calsoum Bachri - Presiden Penyair Indonesia :
"Lepaskanlah kata dari beban makna"

Dan silakan diuraikan sendiri ya :-)

HAK mengatakan...

Ku hanya mampu memandang
dan mengunyah kata-kata

Ku hanya mendengar tanpa ku pandang

Tangan terbelenggu lemahku
Kaki terpaku egoku

ku tak berbuat apa2
hanya mengumpat mampuku

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra