25 November 2008

Warna Bendera

Ijo-ijo, hitam putih, biru atau merah
sudah lagi tak menyolok
Pun juga tak seterang dulu
Mungkinkah warna itu sudah pudar?

Aku ijo, Kau hitam
Kita merah, Mereka hijau

Riuh redah dalam sorot kamera
Meneriakkan cinta buta kasta tertinggi
Mengerek bendera di awang-awang
Biar tampak berkibar jaya

Dunia menangis pilu dan semakin pilu
Meronta-ronta
Mengais seikat rumput-rumput Dewi Sri

Seolah langit tak jua kalah
Bersedih. Meneteskan air mata.

Air mata yang akan memutihkan warna-warni.

oleh
Lisno Setiawan

2 komentar:

awi mengatakan...

aduh puisinya koq penuh simbol ya
tp dunia emang menangis pilu karena krisis global

umi rina mengatakan...

Sukaa banget dengan puisi yang satu ini, simbol penuh makna...
Nggak kebayang dech kalo warna-warni hidup ini memutih karena air mata...:(

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra