14 Maret 2010

Meisya Rismawati (Bagian 3)

Satu bulan sudah Meisya tinggal bersama Hari dan Risla. Hubungannya dengan Hari masih tersimpan rapat untuk Risla. Meski sebenarnya dia tak pernah ingin melukai Risla, namun keadaan dirinya yang membuatnya terus bertahan dalam kebohongan.

Selama ini Meisya berusaha untuk mencari pekerjaan agar bisa menyewa rumah. Setiap hari dia pergi menghubungi perusahaan-perusahaan yang mungkin dapat memberinya sebuah pekerjaan. Panas dan terik serta terkadang hujan tak menghalangi semangatnya, tapi belum juga ada satu perusahaan pun yang mau menerima jasanya.

Karena lelah mencari pekerjaan, Meisya pernah tak sadarkan diri di sebuah terminal bis. Mungkin karena belum sarapan, dia sempat muntah-muntah sebelumnya. Orang-orang disekitar terminal membawanya ke Puskesmas setempat. Setelah agak siuman, Meisya didekati seorang dokter perempuan. Dokter tersebut memberi sebuah amplop, lalu mengucapkan selamat sambil berlalu.

Entah apa yang ada dalam amplop tersebut. Kenapa dokter tersebut mengucapkan selamat? Apa sebenarnya yang ada dalam amplop itu? Pertanyaan itu yang terus saja mengantui. Meisya semakin penasaran. Tanpa pikir panjang, dia langsung membuka amplop tersebut.

Amplop itu berisi selembar surat. Surat yang tak pernah Meisya terima sebelumnya. Sesaat setelah membaca surat itu, ia tersenyum simpul. Ada perasaan bahagia yang teramat di dalam hatinya. Lalu ia menangis haru menahan rasa yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.

Meisya langung beranjak dari tempatnya istirahat, ia pergi menuju lobi Puskesmas untuk meminjam telepon. Ia menelpon Hari, memberi kabar bahwa dia positif hamil. Meiysa merasakan hal yang terindah dalam hidupnya untuk pertama kali ini. Dia tak mempedulian siapapun di sekitarnya, dia terus saja menangis haru dengan senyum yang tak pernah dia lepaskan. Sayap-sayapnya yang patah kini mulai mengepak lagi. Membawanya terbang melayang tinggi di angkasa.

Hari merasa lain. Dia mengkhawatirkan janin yang ada di dalam kandungan Meisya. Ada kemungkinan anak yang kini dalam kandungan Meisya adalah dari hasil hubungannya dengan Meisya, bukan anak Toni. Pasalnya, sudah hampir enam lima tahun Meiya menikah, Toni belum juga bisa memberikan keturunan.

Hari bingung, berjuta pertanyaan terus mengurung pikirannya. Pertanyaan sederhana yang bertubi-tubi menusuk otak. Benarkah janin yang dikandung Meisya adalah anaknya? Pertanyaan itulah yang kini terus meruntuhkan semangatnya. Jika anak itu benar anaknya, entah apa yang harus dia katakan pada Risla. Mungkinkah Risla mau menerimanya sebagai seorang suami? Suami yang telah melukai kehidupan dan perasaan seorang istri dengan perselingkuhan. Suami yang sangat bodoh karena menghianati istri yang begitu setia.

Sulit memang mengetahui siapa ayah sesungguhnya dari anak yang sekarang dikandung Meisya. Mungkin uji Gen bisa membuktikan. Namun, hal itu hanya bisa dilakukan bila anak tersebut sudah dilahirkan. Kini Hari hanya bisa pasrah menerima kenyataan yang dihadapinya.

Kekhawatiran yang dirasakan Hari tak terjadi pada Meisya. Baginya, siapa pun ayah dari anak yang kini dikandunya, yang terpenting adalah kini dia memiliki anak. Suatu hal yang sangat dia idamkan selama ini. Padahal jika benar itu adalah anak hasil hubungannya dengan Hari, dia sama saja semakin melukai Risla yang selama ini dia bohongi.



oleh
wahyudimalamhari

2 komentar:

INAS klepon mengatakan...

bagus banget.

Nugraha Tampan mengatakan...

wow....

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra