07 Maret 2010

Meisya Rismawati (Bagian 2)


Di satu malam, terjadi pertengkaran hebat antara Meisya dan Toni. Masalahnya bukan karena Toni mengetahui hubungan Meisya dengan Hari. Namun, Meisya mendapati sebuah foto di tas kerja Toni. Foto itu bergambarkan Toni sedag memeluk seorang perempuan yang sedang menggendong bayi.

Bermacam alasan sudah Toni berikan kepada Meisya, namun tetap saja tak diterima. Mesya merasa hatinya teriris. Berjuta kekecewaan hadir di hatinya. Meisya merasa possesivenya Toni bukan karena cinta kepadanya yang teramat besar, melainkan karena ada hal yang ditutupi. Ya, Meisya merasa perempuan itulah yang ditutupi oleh Toni dengan sifatnya.

Ternyata, setelah diketahui perempuan itu adalah istri kedua Toni. Orang tua Toni yang memiliki anak tunggal rupanya sangat mendambakan seorang cucu. Pernikahan Toni dengan Meisya yang sudah hampir enam tahun, belum juga dikaruniai anak menjadikan dasar dari pernikahan Toni dengan perempuan tersebut.

Terungkapnya pernikahan kedua Toni membuat Meisya merasa dirinya sudah tak lagi berarti. Meisya merasa sangat menyesal telah menghianati pernikahannya karena menjalin hubungan terlarang dengan Hari. Apa yang telah dilakukannya di belakang Toni ternyata berbuah hal yang lebih gelap. Meisya memutuskan untuk bercerai dengan Toni

***

Meisya terpaku di balik dinding penyesalan, meratapi perbuatannya selama ini. Bayangannya menerawang, mengingat kejadian pertama kali saat bertemu Hari. Dia bertanya lirih dalam hati, bila tak bertemu Hari mungkinkah kejadian ini akan tetap terjadi. Namun, semua yang sudah terjadi, hanya penyesalan yang mengiris tipis hatinya.

Mengetahui apa yang sudah terjadi antara Meisya dan Toni, Hari berusaha menghibur Meisya yang sedang dibungkus penyesaan. Tak banyak yang bisa dilakukannya, dia hanya meyakinkan Meisya untuk tetap tegar.

Sesunggunya Hari sendiri sekarang sedang dilanda kebingungan dan konflik keras di dalam hatinya. Meisya yanga selama ini menjalin hubungan terlarang dengannya harus hidup sendiri. Sesungguhnya dia ingin menjadikan hubungannya dengan Meisya itu menjadi hubungan yang resmi. Namun, apa jadinya bila itu dia lakukan. Bagaimana dengan Risla? Apakah Risla mau menerima keputusannya? Pertanyaan itu yang terus saja menghantuinya.

Meisya kini tak memiliki rumah. Rumah yang selama ini ditempatinya menjadi hak milik Toni. Karena konfliknya dalam rumah tangga, menjadikan pekerjaannya terbengkalai, dia akhirnya diberhentikan dari pekerjaannya. Tak ada biaya untuk sewa atau mengontrak rumah. Dia sempat berpikir untuk pulang ke rumah orang tuanya di Surabaya. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi, karena kedua orangtuan Meisya sudah meninggal, dan kini rumahnya sudah menjadi hak milik orang lain.

Hari yang merasa iba kepada Meisya, mencoba membujuk Risla agar mau menerima Meisya untuk tinggal di rumahnya sementara waktu. Hari menceritakan semua yang dialami Meisya kepada Risla, namun tetap merahasiakan hubungannya dengan Meisya. Dengan berbagai pertimbangan dan rasa percaya kepada Hari, Risla mengijinkan Meisya untuk tinggal bersama mereka.

Kini mereka tinggal bersama dalam satu rumah tangga. Kepercayaan Risla yang sangat besar kepada Hari membuat semua ini hal ini terjadi. Namun, Meisya merasa semakin berdosa karena telah membodohi seorang istri yang sangat percaya kepada suaminya. Dia membayangkan bila menjadi Risla, rasanya mungkin sakit sejadi-jadinya jika suatu saat hubungannya dengan Hari terungkap.



oleh
wahyudimalamhari

0 komentar:

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra