07 Oktober 2009

Kita Dalam Sejenak

Bukankah sejenak itu cukup untuk kita saling melepas penat?
Ketika dalam cakap kita terlampau larut di antara debat tak berkesudahan
pun wajah-wajah melaknat pada benci di ujung rimba yang menggugat

bukankah sejenak itu pas untuk kita sesaat lepas
sedikit melupa tentang rasa
ketika cinta terkalahkan ego
kita mengagungkan emosi bodoh
terkukuhlah kehancuran,
pun sendu sedan luka lirih berkumandang
tapi hati kita terlanjur bertopeng kemunafikan

kawan
sejenak kita redam
suara-suara mengatas-namakan cinta sudah padam
janji-janji terpatri tentang maghligai kasih pun kian suram
dan serpihan-serpihan batu mimpi pun kandas mendalam

kita tak lagi sepikiran,
apalagi sejalan?
kita tak lagi sehati,
mana mungkin saling mengerti?
kita tak lagi semimpi
tiada pasti kita kan berbagi!
kita tak lagi searah,
tak akan bisa kita selangkah!

duhai lelaki
kita butuh sejenak
cukup sejenak
ingat, sejenak!
tak lebih, tak kurang
meski kita tak tahu, seberapa lama sejenak itu hinggap
dan kita tak kan pernah tahu, kapankah sejenak itu berlalu

tak ada salahnya di antara kita sementara,

baiknya kita saling melupa
tanpa mematri luka
di atas tumpukan janji tentang cinta

baiknya kita menyendiri
tanpa menyulam mimpi
pada hamparan kasih membentang pelangi

baiknya kita memaafkan
tanpa dendam berdiri tegak pada dinding keangkuhan
diantara kesunyian malam, sudah selayaknya kita berpasrah dihadapan-Nya

kita adalah aku dan kamu




oleh
Mena Larassati

1 komentar:

Si kampuretoo mengatakan...

:) sejenak..cukuplah

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra