30 September 2009

Coba Berbaring di Antara Dua Bunga

Coba kau lihat purnama. ingatlah akan sinarnya yang lembut
Atau pernah kah terpikir, Berbaring diantara bunga yang wangi
Coba lah berpikir!

“Aku rindu rona senyum indah walau aku berada dalam ketiadaan”

Tak pernah ada yang tau tentang apa yang harus kulakukan, karena aku tidak pernah tau apa yang mereka inginkan. Hanya kata hati yang berjelaga menerawang bagaikan aroma mewangi yang menusuk kedalam pori-pori rasa yang ada di seluruh jiwaku nan kosong

aku sendiri tidak pernah berpikir seberapa jauh akan melakukan apa yang kurasakan karena aku sendiri tidak pernah melakukan apa yang benar-benar tumbuh dan berkembang dari dalam hati yang terdalam, yang ku tau hanyalah rasa yang menguasai apa yang aku pikirkan. Andai saja aku adalah penyusun waktu maka aku akan menuai kesenangan yang paling egois di dunia ini. Mengapa aku harus memikirkan sesuatu yang ada, yang ada sendiri tidak pernah tau bahwa aku ada, yang ada sendiri tidak peduli akan aku yang ada, entah kapan keadaan menoleh ke arahku. Aku tidak pernah menyesal dengan apa yang kulakukan karena rasa memberiku tawa dan senyum walaupun semua itu hanya semu tidak nyata datang dari keadaan yang benar-benar melihatku dalam keadaan yang seadanya dalam menunjuk bintang yang berkelip di langit impianku

Namun, aku harus memaksa keadaan untuk tahu bahwa aku tahu tentang yang ada

Terpikirkah itu, aku yakin tidak karena tidak mungkin ada yang biasa meraba hati dan pikiranku kecuali Tuhan. Bukan aku tidak mau berbagi dengan siapa pun, tetapi tidak banyak yang tau tentang apa yang aku mau dan inginkan . aku hanyalah deraian debu yang tertiup angin dalam tikaian hati yang tidak pernah usai. Kapan semua ini berakhir, kecuali mati? Namun mati bukanlah jawaban dan bukan akhir dari semuanya kematian hanyalah kesimpulan dari episode yang terus berjalan hingga kita sendiri tidak bisa melihat episode berikutnya karena skenario itu tidak dapat kita gubah

Aku sendiri tidak pernah bosan mencari setitik warna di kubangan hitam nan kelam bagiku di sanalah warna sejati dan di sanalah aku bisa melihat bayangan, bayangan yang setia menemaniku dalam posisi apapun dan dalam bentuk apa pun

Sebatang rokok tidak bisa mengubah keadaan. Aku sendiri malas membahas keadaan, terlalu muak dan membosankan sebab tidak ada ujung, keadaan hanya bisa diubah lewat keadaan akankah ada yang bisa menetapkan keadaan.

sering kumenatap langit yang penuh dengan uraian tangis, coba kurasakan, dan sering juga aku menatap purnama yang menerangi malam, coba ku nikmati. Tapi hanyalah khayal yang datang

aku pesimis, mungkin aku harus mencari dimana keadaan yang benar-benar tahu bahwa aku ada. Tetapi timbul pertanyaan. "dimana?"

Ya, dimana?

Belum kutemukan jawaban, karena terlalu berlebihan jika aku ingin sesuatu yang lebih tetapi aku sendiri tidak berusaha lebih.

Terkadang aku sering melihat kilauan yang membuat aku merasakan nyaman berada di dalamnya tetapi aku jarang untuk menyadari bahwa seluruh kulitku melepuh terkoyak dalam tawa, begini yang terjadi suatu ketika aku melihat sebuah lorong kecil dan gelap namun ada kilauan yang hanya setitik, aku terpikir itu hanyalah pantulan sinar mentari yang menembus rongga tanah. Setelah kupikir lagi, tidak mungkin. Aku pun memasuki lorong itu, pengap penuh dengan kesesakan yang mencakar setiap relung logikaku. Ingin kumenyerah dan kembali kebelakang, tetapi aku tidak ingin hanya menikmati rasa sesak tanpa aku tahu apa sinar itu. Aku terus bergerak dengan segala daya, tidak lagi ada rasa di sekujur tubuhku entah luka, entah tersobek tidak kurasakan yang kutahu hanyalah rasa lembut sinar. Dengan susah payah akhirnya aku pun dapat memeluk sinar itu, ketika tubuhku terlihat, aku hanya bisa menatap kaku. kulitku terkelupas itu pun di bagian badanku. tanganku penuh dengan sayatan tajam, yang lebih membuatku miris kakiku entah dimana”

Ludahan itu ku unggap hanyalah serentetan peluru-peluru pacu yang dapat membuat ku maju dan terus menatap kedepan


Andai suatu ketika engkau singkah di teras kediamanku, kumohon untuk tinggal walau sejenak, karena aku tidak pernah menyediakan sepotong roti dan segelas sirup nan segar tetapi aku hanya menyediakan seteguk air tawar. Namun, setelah engkau pergi, engkau akan kembali. Tetapi engkau tidak akan pernah menemukan jalan menuju kediamanku



oleh
HenQ

3 komentar:

Kabasaran Soultan mengatakan...

Subhanalloh ....
Sebuah prosa indah yang sarat hakikat

nice sharing bro...

pelangi anak mengatakan...

Rumit, tapi unik. Unik karena untaian kata yang mengisahkan sebuah cerita. Teruslah bersyair, berpuisi dan berprosa, SEMANGAT....

fian kalong mengatakan...

mantap , ,
ku sampe merinding , ,
ku copy ya buat jadi kenangan bhwa ku pernah bca untaian yg begitu indah , ,
jujur ni yang kurasakan ,,

semua jempol buat mu , ,

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra