24 Mei 2009

Suamiku Pendiam Luar Biasa

Sally berkutat pada pekerjaannya. Ia membuat target agar bisa menyelesaikan semua tugas-tugas kantor sebelum died line tiba. Rencananya setelah itu, ia akan menyelesaikan urusan yang selama ini menghantui dirinya dan membuatnya tidak bisa tidur.

Nat juga masih duduk di serambi rumah sambil membaca Koran. Pekerjaan itu seolah tidak kunjung habis, karena setelah koran, akan ada banyak lagi bacaan-bacaan lainnya, seperti majalah, bulletin, komik, novel dan lain sebagainya. Percayalah bahwa semua bahan bacaan mulai dari edisi tahun-tahun lalu sampai terkini yang tersimpan di gudang sudah ia lahap habis.

Sally menggelengkan kepala seraya menurunkan kacamatanya sedikit. Ia sudah mulai tidak sabar untuk memulai topik pembicaraan yang ia pikir, akan menyelesaikan segalanya. Tunggu! Tinggal satu halaman lagi. Katanya dalam hati, lalu meringkas beberapa kata kedalam halaman lain.[]

“Nat!” katanya. Kemudian ia memanggil nama itu untuk kali kedua karena suaminya tidak sedikitpun bergeming. “Nat!” kali ini dengan nada suara yang sedikit keras.

Nat menoleh dan mendapati Sally istrinya, sedang berdiri sambil memangku tangan. Dengan wajah innocent, Nat tersenyum. Sementara Sally sudah tidak sabar. Saat ini ia sedang berpikir bagaimana memulai semua tanpa harus menyakiti hati Nat. Matanya melirik pada buku-buku yang bertumpuk diatas meja beserta secangkir kopi sisa kemarin. Disana juga tersedia asbak yang berisi abu-abu rokok yang entah sejak kapan Nat mengoleksinya. Sally menggelengkan kepalanya sekali lagi dan Nat belum berkata apapun.

Suami yang aneh. Itulah pemikiran Sally, tapi beberapa tahun terakhir ia merasa dirinya lebih aneh, karena telah memutuskan Nat sebagai pasangan hidupnya. Selama usia perkawinan, Sally bisa menghitung berapa kali mereka mengadakan perbincangan. Mungkin sekitar dua atau tiga kali. Pertama ketika mereka memutuskan untuk membeli rumah yang mereka tempati sekarang, kedua ketika mereka akan berlibur ke Paris dan terakhir adalah perbincangannya tentang atap rumah yang bocor. Semua itu adalah perbincangan yang sangat singkat, sekaligus hari yang terindah, karena setiap kali perbincangan dimulai, disanalah Sally menaruh harapan-harapannya agar Nat berubah. Setidaknya ia bisa bergosip bersama tentang berita-berita artis masa kini atau tetangga sebelahnya yang acap kali berkomentar tidak penting tentang orang yang melintas didepan rumahnya.

Apa mau dikata, mungkin itu sudah nasib Sally. Nat tidak sedikitpun berubah. Ia tetap menjadi pendiam luar biasa. Dan selalu mengatakan atau menjawab apa adanya seperti ”Aku tidak tahu!”, ”Oh…”atau ”ok, ok!”.

Nat tidak pernah marah, karena memang dia bukan pemarah. Tapi Sally ingin sekali Nat marah, setidaknya mengomentari apa yang ia lakukan, seperti “Oh, Sally kau cantik sekali hari ini?”, “Oh, tidak! Kau terlalu kurus memakai baju itu!” Semua itu tidak pernah meluncur dari mulut Nat, bahkan ketika ia berbicara lewat telepon dengan Sally atau orang lain sekalipun.

“Sally, apa yang terjadi pada suamimu?” Tanya seorang temannya pada suatu hari, dan itu membuat Sally jengkel. Mungkin mereka berpikir bahwa Nat sudah menjadi suami takut istri atau memiliki kelainan. Tidak jarang mereka akan membuat itu sebagai bahan gurauan atau nasehat agar Sally mencari pria lain sebagai pendamping hidupnya.[]
“Nat,” panggil Sally. Nat belum berkata apapun, hingga kali kesekian. “Nat! apa kamu tuli?! Aku sedang berbicara padamu, aku tidak berbicara pada patung kan?!” kesabaran Sally habis dan ia menangis. Kertas kerjanya menjadi lusuh karena secara tidak sadar ia meremasnya kuat-kuat.
“Sally…” kata Nat. seperti biasanya itulah kata awal yang ia pakai jika hendak memulai pembicaraan. Tapi jika dia tidak berniat meneruskan pembicaraan, maka kalimatnya hanya sampai situ.

“Nat, apakah kamu mencintaiku?” Tanya Sally. Nat hanya mengangguk, dan itu membuat Sally semakin jengkel. “Aku tidak butuh isyaratmu Nat! aku butuh kamu untuk bisa bicara!” jelas Sally.

Suasana hening. Rasanya inilah puncak kesabaran dan Sally yakin benar bahwa masa perkawinannya berujung pada hari ini, ketika Nat harus memilih apakah dia akan berubah dan meneruskan rumah tangga atau dia akan tetap diam dan diam dengan pekerjaan yang tidak pernah jelas.

“Apa yang kau lakukan setiap hari? Kau hanya duduk di meja ini dengan koran, majalah-majalah, komik, laptop, kopi dan rokok!” apa kamu pernah berpikir untuk membahagiakan aku Nat? apakah kamu tidak pernah berpikir untuk mengajakku jalan-jalan selain berdiam diri ditempat ini berbulan-bulan? Apa pekerjaanmu?!” Sally diam, ia tidak lagi berusaha menahan tangis yang membuncah, lalu melanjutkan semua uneg-unegnya. “Selama ini aku bertahan. Aku mencoba belajar untuk memahamimu, tapi ternyata semua itu membebaniku. Aku menikah bukan semata-mata karena menginginkan status, aku tidak pernah membayangkan mempunyai suami pendiam luar biasa, aku malu dengan teman-temanku, aku letih dan…” kalimat Sally terhenti ia mengusap airmata sebelum melanjutkan kalimat, “apa kau ingat berapa lama usia perkawinan kita Nat?! ” Sally dengan mata bengkak dan merah menghadapkan wajahnya lekat-lekat pada Nat.

Nat melangkah, mendekati jendela setelah sebelumnya ia menaruh koran diatas meja. Ia sedang mempersiapkan kata-kata dan bisa diduga bahwa ini adalah perbincangan keempat dan terlama selama ini.

“Ya, Sally. Aku mencintaimu dan aku telah mengatakan itu padamu delapan tahun yang lalu ketika aku melamarmu. Dan aku akan bilang jika ada perubahan” jelas Nat.
Sally tertunduk lemas. Nat benar-benar keterlaluan. Mungkin pengajuan cerai sekalipun tidak akan berpengaruh pada emosinya. Baginya, Nat benar-benar tidak memiliki perasaan.
“Ok, Nat. aku ingin kita bercerai!” tegas Sally. Ia berusaha menantang Nat. rencana ini sudah ia pikirkan matang-matang melalui berbagai pertimbangan yang tidak sedikit menyita waktunya hingga pekerjaannya akhir-akhir ini terbengkalai.

Nat hanya tersenyum. Jauh dilubuk hatinya ia tahu benar penderitaan Sally. Ia juga berpikir bahwa masalah ini tidak akan pernah muncul ke permukaan, karena Sally sudah tidak perduli padanya. Ia jadi merasa bersalah dan semua ingatan sejak awal perkenalan hingga sekarang timbul tenggelam dipikirannya.

Bacalah ini Nat!” kata Sally sambil melempar sebuah buku keatas meja. Nat menghampiri dan membaca buku itu. Buku itu itu berjudul Pentingnya Komunikasi. “Kau tidak pernah membuatku bangga sedikitpun!” tambah Sally sekali lagi, lalu ia beranjak pergi.[]
Beberapa hari berlalu seperti biasa. Tidak ada percakapan, gurauan atau tawa riang. Yang berbeda dan lebih menyedihkan sejak hari itu adalah, tidak ada roti bakar dan susu di meja makan setiap pagi, atau salad spesial buatan Nat. Sally pun belum juga bergegas mengurus surat-surat perceraian yang pernah ia ajukan tempo hari.

Dering telepon berbunyi beberapa kali. Sally kesal. Rasanya ia ingin sekali menumpahkan semua amarahnya pada si penelepon. belakangan ini ia semakin sensitif. Dilihatnya Nat sedang bergulat dengan laptop. Mengetik berlembar-lembar halaman yang tidak jelas isinya.

“Yes, Madam. I am Mr. Kidman’s assistant! I want to give information to him. The publishing company told me that Mr. Kidman’s book was sold more than a hundred exemplars, and we need Mr. Kidman to come to the company today”
Sally tertegun dan menatap hampa tombol-tombol pesawat telepon. Sementara lawan bicara memanggil-manggil.

“Sehebat itukah Nat?” Pikir Sally. Lelaki yang ia pikir tidak berguna selama ini ternyata memendam sebuah bakat yang tidak pernah ia ketahui. Dan hari ini, ia begitu takjub seperti melihat kembang api yang menghiasi malam tahun baru. Nat diam-diam telah mengubah cara pandangnya. Beberapa saat kemudian ia tersadar dan melanjutkan pembicaraan.

Sally mendekati suaminya. Ia berdiri di tengah pintu sambil memegang berkas-berkas kerjanya, dan tanpa pikir panjang langsung memeluk suaminya.

”Maafkan aku Nat. Aku berpikir selama ini kau tidak berguna sama sekali.” Sally menangis. Ia tenggelam dalam tubuh Nat yang besar.

Nat tidak bertanya sedikitpun tapi dari raut wajahnya, Sally sudah tahu kalau suaminya mempertanyakan apa yang tengah terjadi pada dirinya saat ini.

”Kau ditelepon asistanmu Nat, barusan.” sambung Sally.

”Oh, Christine? Wanita itu selalu membuat aku terkejut dengan berita-beritanya yang hangat” jelas Nat dengan kalimat panjang.

”Hey, Nat. Tampaknya kau begitu tertarik padanya ketika aku menyampaikan kabar ini. Ada apa denganmu Nat? Apa kau menyukainya?” Sally mendesak sambil menunjukan sikap cemburu. Nat tersenyum, ia tahu istrinya begitu.

Telunjuk Nat mengusap pipi Sally. Halus. Sudah lama sekali mereka tidak pernah bermanja-manja.

”I love you Sally, with all my life. Entah apa jadinya jika aku menjadi suami wanita selain dirimu. Kau selalu sabar dengan keadaanku.” Nat bertutur panjang. Setelah itu ia menceritakan pekerjaannya sebagai penulis novel dan artikel di beberapa media. Nat memiliki bakat terpendam yang tidak Sally ketahui selama ini.

”Kapan kau mulai pekerjaan ini Nat, sampai aku, istrimu sendiri tidak mengetahui?” tanya Sally.

”Sejak sekolah menengah pertama aku sudah mulai menulis. Tapi kau tahu, sejak perusahaan tempatku bekerja bangkrut dan aku menjadi pengangguran, aku mulai mencoba menggeluti dunia yang pernah aku tinggalkan, yaitu menulis. Dan dari situ kita semakin menjauh bukan?”

Sally mengangguk, sementara ia mulai mengingat beberapa tahun silam.

”Ok, ayo bergegaslah! Hari ini perusahaan itu membutuhkanmu.” ucap Sally lagi seraya melepaskan pelukan Nat. Ia jadi bersemangat. Keduanya melihat ada perubahan meski terlalu besar tapi mereka yakin hari ini adalah awal yang baik untuk memulai semuanya. Nat masuk kekamar.

Sally menghampiri meja kerja Nat yang beberapa tahun lamanya tidak sedikitpun ia mahu menyentuhnya. Dulu ia berpikir, bahwa meja itu adalah meja malas bagi si bisu.Oh, tega sekali diriku! Sally sedih sendiri dengan pemikirannya yang salah. Ah, sudahlah. Itu sudah berlalu. Tukasnya dalam hati. Kemudian ia melihat ribuan kata yang terangkai dalam novel-novel Nat. Ada juga cerpen, artikel dan... lagi-lagi Sally tersenyum dan ingat mengapa beberapa hari setelah pertengkaran kemarin Nat jarang ada disampingnya jika malam tiba, lalu ia membuka pemisah buku yang pernah diberikannya pada Nat. Buku berjudul Pentingnya Komunikasi. Ternyata Nat sudah membacanya hampir pada halaman terakhir.



Cerpen kiriman dari Sahabat KOPI Sastra.
Windy Hastuti

5 komentar:

D.L Sumunie mengatakan...

Bagus cerpen ini..saya suka amat!

umi rina mengatakan...

Keren!!!*two thumbs up*
Rangkaian kata-kata dalam cerpen ini dikemas dengan ringan dan menarik.

Terkadang, mengenal hati dan sikap seseorang lebih bermakna daripada sekedar kata-kata. :)

else mengatakan...

ntar baca dulu...baru komen...
sssttt jangan ribut....lagi baca neh :d

Putri Zulmiyusrini mengatakan...

Bagus..yang terpenting adalah suami yang tidak memikirkan wanita lain selain istrinya..

Noor's blog (inside of me) mengatakan...

Mantab..neh ceritanya!, menurutku suami memang lebih pendiam. klo bawel kan ibu2..ya toh ?

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra