11 Maret 2009

Gerimis dan Ayah

Aku tahu akan menjadi seorang yang akan dikenal di mana-mana. Di pelosok kota hingga ke desa-desa. Semua orang menghormatiku. Kehormatan yang sangat diinginkan oleh semua orang, pikirku. Panggil saja aku Abdullah! Maaf, bukan Abdullah tetapi Joan. Panggil aku Joan! Itulah namaku. Kepada siapa saja kamu bertanya mengenai nama itu, pasti semua orang tahu. Tidak ada kesulitan bagimu untuk tahu mengenai aku. Di umur yang menginjak 35 tahun ini, aku merasa telah mencapai segalanya. Meraih segalanya bersama dengan semua angan-anganku dahulu.

Pagi ini ada sebuah harapan untukku. Yah, harapan itu akan selalu ada. Masih mengenakan piyama, aku meneguk segelas kopi di meja. Kopi pahit dan kental yang telah disiapkan oleh pembantu sedari tadi.

Mataku tertuju pada sebuah koran pagi ini. Segera aku duduk tak sabar menikmati suguhan koran itu. Baru saja halaman pertama yang aku buka, bibirku tersenyum pertanda kemenangan. Mata ini memancarkan sorotan bahagia. Koran itu lalu kuakhiri dengan tegukan terakhir kopi pahit dan kental itu. Kurasakan perutku telah kenyang oleh suguhan koran, bukan dengan kopi.

Hari ini libur bagi pegawai. Aku menggunakan waktu luang ini untuk mencari angin segar atau mungkin ada bisnis baru yang bisa mendatangkan keuntungan yang besar. Istriku kubiarkan ke rumah temannya. Katanya ada arisan, mungkin sore baru kembali. Bahkan bisa saja malam.

Aku memutuskan ke rumah sahabat lamaku, Pandi. Hanya untuk silaturrahmi, sudah lama aku tidak bertemu dengannya. Pagar rumahnya tidak terkunci. Pagar besi yang mulai berkarat karena dilahap masa. Aku lalu masuk, segera pintu kuketuk. Agak lama juga, kemudian seorang membuka pintu. Aku terkejut melihat penampilannya. Rambut yang awut-awutan, wajah kusut tidak pernah disetrika, dan masih mengenakan piyama. Pagi ini disambutnya aku dengan penampilan seperti itu. Bagaimana mungkin seseorang mau maju kalau penampilannya saja tidak bisa diurus. Dengan langkah malas ia mempersilahkanku masuk.

“Mau minum apa?” tanyanya sesaat.

“Kopi.” jawabku datar.

“Tunggu sebentar! Aku buatkan.”

Aku hanya mengangguk mendengar kalimatnya yang terakhir.

Sudah hampir dua tahun aku tidak berkunjung ke rumah ini. Masih seperti dulu. Tidak banyak yang berubah. Hanya saja di dinding ruang tamu terdapat sebuah lukisan pemandangan gunung Bawakaraeng. Bagiku itu tidak menarik, hanya gunung yang bertumpuk-tumpuk dengan warnanya yang hijau seperti karpet yang dijual di emperan toko. Dekat sofa ada sebuah buffet. Di atasnya terdapat dua buah foto terpajang dengan anggunnya. Yang satu fotoku dengan sahabatku sewaktu kami masih menyandang gelar mahasiswa. Ternyata ia masih menyimpan foto-foto ini. Yang kedua foto sahabatku dengan keluarganya.

Aku melangkah menuju sebuah jendela. Jendela yang menghadap ke timur. Kubuka jendela itu membiarkan udara pagi merasuki rumah ini. Berharap ilmu yang mengawang di udara hinggap di kepalaku. Aku melempar pandangan ke luar. Ada banyak petani yang sedang memikul cangkulnya di luar sana, sedang ibu tani membawa bakul. Mereka hendak ke sawah. Aku melihat senyuman dan tawa di bibir petani-petani itu. Alangkah bahagianya mereka, tetapi hidup mereka tetap tidak berubah.

Aku ingat teman kuliahku dahulu, namanya Anwar. Ia anak seorang petani. Orangnya sangat rajin dan ramah. Ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha dan bekerja di kota besar sehingga bisa menghasilkan banyak uang dan menghidupi keluarganya. Ia tidak mau lagi melihat ayahnya bekerja banting tulang di sawah. Tetapi semua keinginannya itu hanya impian belaka. Lulus kuliah bukan pengusaha yang ia kerjakan melainkan menjadi petani seperti ayahnya. Aku tidak tahu persis mengapa itu bisa terjadi. Seharusnya memang seperti itu. Benarlah ada pepatah mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Memang pantas ia seperti itu.

Suara Pandi mengagetkanku. Dua gelas kopi telah berada di atas meja. Kepulan asapnya menggoda untuk segera diteguk. Aku beranjak mengambil cangkir sebelah kanan. Sejenak kuperhatikan cangkir itu, warnanya putih dengan gambar sebuah rumah. Mungkin cangkir ini baru, pikirku. Waktu aku tinggal di rumah ini, aku tidak pernah melihat cangkir ini.

“Tidak usah heran. Itu cangkir baru.” Sela Pandi saat melihat tingkahku.

Aku baru sadar telah diperhatikannya sedari tadi. Aku juga baru sadar ternyata ia telah mengenakan kaos oblong kesukaannya. Piyama itu tidak melekat lagi di tubuh kurusnya, ternyata ia mengganti pakaian. Pantas saja aku menunggu begitu lama.

“Makin maju kamu sekarang. Selain menjadi dosen di salah satu universitas ternama di kota ini, kamu juga aktif menulis di berbagai media. Apalagi tesismu sekarang ini telah mengguncang dunia pendidikan. Bahkan tulisan-tulisanmu selalu menggetarkan pembaca.” kata Pandi memecahkan kesunyian.

“Memang seharusnya seperti itu. Ilmu pengetahuan adalah segalanya. Jika kamu tidak mempunyai ilmu, yakinlah kamu akan ketinggalan dan tidak akan maju.”

“Bagiku ilmu memang penting, yang bisa membuat kita melakukan apa saja, ya, apa saja. Tetapi alangkah ruginya seseorang jika mengagung-agungkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya tetapi lupa kepada yang menghidupinya.”

Mendengar kalimat terakhir sahabatku itu, hatiku seperti tersayat. Tidak ada lagi nafsu untuk meneguk kopi yang masih tersisa. Aku terbakar amarah sendiri, kurasakan api menyala-nyala di tubuhku. Apa Pandi ini ingin menyerangku juga seperti teman-teman yang lain. Teman-teman yang selalu menganggapku budak ilmu pengetahuan. Tetapi bagiku mereka hanya iri melihat kesuksesanku sekarang ini. Tidak seperti mereka yang hanya bekerja sebagai petani, pedagang, dan lain-lain. Bagiku pekerjaan itu memang pantas mereka dapatkan. Tetapi hari ini sahabatku sendiri menyerangku sampai menusuk ke tulang-tulangku. Bibirku gemetar, aku melihat sorotan matanya mengarah kepadaku, seperti badik yang siap-siap menikam tepat di jantung. Tetapi aku melihat masih ada sahabat di sana bukan musuh yang kurasakan. Sebisa mungkin bibir ini aku paksa tersenyum kepadanya.

“Kamu adalah sahabatku. Orang yang masih aku punya selama ini. Aku tidak ingin menganggapmu musuh seperti yang lainnya.” kataku coba menenangkan hati.

“Kamu tersinggung? Padahal aku tidak menuduhmu seperti itu. Aku hanya mengatakan seandainya saja.”

“Cukup! Cukup! Tidak usah diteruskan!” segera perkataan Pandi kupotong. Aku tahu ia menjebakku. Aku semakin terbakar, kepalaku serasa ingin meledak seperti magma yang ingin keluar dari gunung berapi.

Aku menghadapkan wajah ke jendela, berharap mendapat kesejukan dari angin yang berhembus. Tetapi sepertinya angin berpihak kepada Pandi.

“Joan, sahabatku,” Pandi mendekatiku dan melempar pandangan ke luar jendela seperti yang aku lakukan. Tangannya menyentuh bahuku, sentuhan seorang sahabat. Lalu melanjutkan kata-katanya.

“Kita hidup di dunia ini bukan untuk selama-lamanya. Kita diberi kesempatan untuk berbuat apa saja. Apa saja. Selama perbuatan itu baik untuk diri kita sendiri dan untuk orang lain. Ada banyak cara untuk melakukannya. Misalnya saja mencari ilmu pengetahuan dan menggunakannya untuk suatu hal yang baik. Banyak orang di dunia ini mempunyai ilmu yang tinggi tetapi ada pula yang sama sekali tidak memilikinya, atau lebih kasar dikatakan bodoh. Seperti kau sekarang ini. Ilmu pengetahuan yang kau miliki telah memperbudakmu. Kamu menjadi angkuh, sombong, merasa diri paling benar dan menganggap semua orang bodoh. Bagiku bodoh itu bukan berarti seperti yang kau maksud. Bisa saja orang bodoh itu pintar dalam sebuah hal tetapi justru kau yang tidak tahu. Bodoh itu relatif, Sahabatku.”

Entahlah mimpi apa aku semalam. Pagi-pagi begini aku mendengarkan ceramah dari Pandi. Seandainya ia bukan sahabatku, sedari tadi aku sudah melawan serangannya. Hatiku tambah panas mendengar semua ocehannya. Tidak sepatutnya ia mengguruiku seperti ini. Aku lebih tinggi dari pada dia. Aku seorang dosen di salah satu universitas terbaik di kota ini, tulisanku selalu dimuat di media, dan terakhir beberapa buku telah aku terbitkan. Sekarang ini aku membangun sebuah rumah pengetahuan yang aku miliki. Tetapi hari ini serasa bangunan itu akan runtuh, luluh lantak karena sahabatku.
Aku heran mengapa tidak bisa menangkis semua ocehannya. Mulutku terasa selalu mengatup. Padahal ada jutaan kata yang ingin aku muntahkan segera. Aku seperti murid yang mendengarkan petuah gurunya. Padahal derajatku lebih tinggi darinya, walau pun ia sahabatku.

“Aku heran kepadamu, kebesaran nama dan ilmu pengetahun yang kau miliki membuatmu lupa terhadap asalmu. Masa yang telah mengubahmu. Aku hanya ingin melihat sahabatku seperti dulu. Temuilah ayahmu secepat mungkin.” lanjutnya.

Malam ini aku tidak bisa tidur, gusar karena mengingat kata-kata sahabatku pagi tadi. Sudah lama aku tidak menemui ayahku di desa. Yah, sudah sepuluh tahun aku tidak menemuinya. Bagaimana raut wajahnya sekarang? Apakah keriput mulai menjalarinya.
“Ayah” mengapa mendengar kata itu hatiku selalu gemetar. Apa benar yang dikatakan oleh semua orang, bahwa aku telah melupakan tanahku sendiri, melupakan orang tuaku sendiri. Apa yang telah aku inginkan telah tercapai. Semuanya berawal dari kematian ibu sejak aku masih SMP. Orang yang sangat kusayangi telah meninggalkanku di dunia ini. Sejak itu pandanganku berubah kesemua orang, termasuk ayah. Usaha dan kerja keras yang aku lakukan selama ini membuahkan hasil. Yah, seperti sekarang ini. Semua orang menghormatiku dan tunduk kepadaku. Ilmu pengetahuan yang kumiliki telah mengubah segalanya. Aku tidak diremehkan lagi seperti dulu. Seperti ayah yang selalu menganggap aku tidak bisa berbuat apa-apa kelak. Kata-kata ayah dulu terbantahkan sekarang. Buat apa aku kembali ke desa? Kembali kepada orang-orang bodoh dan tidak tahu zaman dan teknologi.

Aku jadi teringat kata Pandi, “Bodoh itu relatif.”.
Mendengar semua petuahnya tadi pagi membuatku meninggalkan rumahnya tanpa pamit. Aku terbakar amarahku sendiri, meninggalkan sesal datang ke rumahnya. Ternyata itu pertemuan terakhirku dengannya. Esok ia akan berangkat ke Yogyakarta melanjutkan pendidikannya di sana. Tetapi sebelumnya ia akan kembali ke desanya bertemu dengan kedua orang tuanya terlebih dahulu. Ya, bertemu dengan orangtuanya.

Telah tiga bulan pertemuan terakhirku dengan Pandi, aku menjalani hari-hari seperti biasanya. Rasa rindu kepadanya terobati saat ia menelpon pagi tadi. Sekarang ia berada di Yogyakarta, ada banyak kisah yang ia ceritakan kepadaku. Tetapi tiba-tiba ia bertanya apakah aku telah menemui ayahku di desa. Aku diam seribu bahasa. Tidak tahu apa yang mesti aku katakan kepadanya. Ada kebisuan yang tercipta di antara kami. Sebelum menutup teleponnya, ia mengatakan bahwa saat berada di desa, ia bertemu dengan ayahku. Wajahnya sudah keriput, tubuh renta dan tertopang oleh sebuah tongkat, badannya kurus seperti kulit membalut tulang, rambutnya telah memutih. Tetapi ia masih mempunyai senyuman harapan. Harapan dan rindu ingin bertemu dengan anaknya.
Apa benar ayah merindukanku? Seumur hidup ia tidak pernah mengatakan itu kepadaku. Apa mungkin Pandi berbohong agar aku pulang menemui ayahku. Aku percaya ia, tidak mungkin ia berkhianat. Ada getar gelisah dan sedih saat ia berkisah mengenai ayahku. Ada sesuatu yang disembunyikannya kepadaku. Tanpa sadar pipiku hangat karena tetesan air mata. Mengapa aku menangis? Apa benar aku merindukannya? Apa benar ayah merindukanku? Aku merasa jiwaku telah berada di sampingnya sedangkan ragaku masih berada di sini.

* * *

Aku memutuskan untuk kembali ke desa. Sejak perkataan sahabatku tempo hari membuatku tidak tenang. Wajah ayah selalu terbayang. Memang aku telah meraih segalanya, tetapi ternyata hati ini masih hampa. Kosong. Semakin hari rindu untuk bertemu semakin besar. Selama ini kemegahan telah membuatku lupa kepada tanah yang menghidupiku.
Hari ini aku bersama istriku akan menemui ayah. Setelah semua barang telah siap, mobil segera melaju meninggalkan segala kemegahan, meninggalkan mulut kekuasaan dan keangkuhan.

Dalam perjalanan pun hatiku tidak tenang. Entah mengapa sejak semalam kurasakan seperti ini. Istriku pun tidak tahu, ia hanya tersenyum kepadaku seolah-olah mengatakan ia akan bertemu dengan mertuanya. Mertua yang selama ini baru sekali ditemuinya karena keegoisanku. Hari ini bangunan itu telah runtuh. Aku merasakan dentuman dan retakan-retakan dindingnya. Mulai berjatuhan ke tanah. Tetapi bukan itu yang membuatku gusar.

Gerimis datang tiba-tiba menyertai perjalanan kami. Perasaanku tambah tidak tenang. Gerimis, ya gerimis. Mengapa tiba-tiba gerimis datang, Padahal cuaca sangat cerah barusan. Aku ingat ayah tidak menyukai gerimis. Katanya gerimis mengingatkannya kepada ibu. Ibu pergi disertai guyuran gerimis waktu itu. Sehari semalam hanya gerimis yang menemani kepergian ibu meninggalkan kami. Aku jadi khawatir, bagaimana perasaan ayah sekarang melihat gerimis.

“Sudah hampir sampai di tempat tujuan.” kataku menghibur diri sendiri. Tetapi gerimis masih berjatuhan dari awan-awan yang menggantung di langit. Hatiku semakin gelisah dan tidak tenang.

Saat mobil memasuki pedesaan, gerimis masih saja mengguyur. Saat mendekati rumah, aku melihat banyak orang. Mungkin ayah mengadakan pesta untuk menyambutku karena tahu anaknya akan datang. Tetapi wajah semua orang yang dulu kuanggap bodoh terlihat gamang. Semuanya melirik kepadaku. Sorotan mata langsung menikam hatiku. Seperti belati yang telah diasah berhari-hari. Aku alihkan pandangan ke depan. Pura-pura tidak memperhatikan mereka. Sedang istriku berada di sampingku. Kulihat ia masih memasang senyumannya kepada semua orang.

Saat memasuki mulut rumah, aku disambut oleh manusia yang telah terbungkus kain kafan. Ya, ayah. Ia yang berada di balik kain putih itu. Hari ini gerimis telah membawanya pergi. Seperti ibuku beberapa tahun yang lalu. Belum sempat telinga ini mendengar kata rindu dari mulutnya, belum sempat mulut ini mencium punggung tangannya, belum sempat raga ini bersimpuh di hadapannya, gerimis telah mengiringi kepergian ayah. Ya, gerimis. Lagi-lagi gerimis.




Parangtambung, Oktober 2008.

oleh Aas Reandysar


2 komentar:

umi rina mengatakan...

Miriiis...:(
Sesal di belakang hari tidaklah berguna,
Lebih baik berdoa kepadaNya untuk kebaikan kedua orangtua sebagai pengobat sesal itu...:)

The Dexter mengatakan...

Apa kabar mas?? Kangen bogor euyy... Kapan hari aku melintas disitu sepulangd ari sukabumi.
Ayo ayo tuliskan tentang kebahagiaan, beberapa saat ini melihat kalian selalu biru. Aku nggak mau temanku. Biar saja semua lewat sebagai kenangan.
Karena tiada hantu yang menyeramkan kecuali masa lalu.

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra