14 Februari 2009

Nyanyian Cinta

ketika aku memejamkan mata
dan membunuh segala ingatan matahari yang hampir berputar untuk ketiga kalinya
aku ingin memeluk rembulan dan berselimutkan bintang-bintang
beralas mega yang dingin menembus tulang-tulangku yang rapuh
lalu aku dikoyak-koyak rindu akan jutaan titik kenangan

dan menjadi badai yang tiap saat menghantam tubuhku yang lemah
serta air mata menjadi saksinya
menenggelamkan aku dalam lautan cerita yang usai
dan aku hanya menunggu dalam perih
menunggu badai ini pergi
menghitung waktu yang tak pernah habis jumlahnya
menghitung luka yang tak kuduga banyaknya

oleh Mely A.

5 komentar:

bunda 4zka mengatakan...

puisinya bagus
tp klo mau lebih bagus lagi sih mending jgn cuma nyanian, tp perbuatan :)

Umi Rina mengatakan...

Menyesal kemudian tidaklah berarti. Masa lalu, biarlah berlalu, bukan untuk disesali tetapi untuk dijadikan hikmah dan penyemangat, menjadi cinta yang terwujud dalam perbuatan.

Ayo semangat!!! :)

Senoaji mengatakan...

separah2nya hati yang dicincang janji cinta, tetap ada bijak yang setia duduk dibangku taman kedamaian yang rela menghabisi malam dan tipu2nya hanya untk sekdar terpental ke lembaran2 keindahan tabah. jengah adalah kalah dan kalah adalah lelah. hehehehehehehe aku ini ngaco pa yak wkwkkwkwkwkwkwkwk lam kenal... pusimu bagus sob

aku link yak

bagus pras mengatakan...

hanya bernyanyi tentang cinta???
tak berani mewujudkannya?

memey mengatakan...

nAmuN tk seLaManya ciNta iTu mEnyikSa.
peRcaYaLah baHwa dibaLik sMua iTu TuHan puNya renCana bEsar unTukmu.
:)

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra