14 Januari 2009

Tiang Kesabaran

Hari yang penuh kesucian di antara bulan suci yang menatapkan wujudnya kepada umat manusia di muka bumi ini. Bulan yang suci ini kembali menghampiri keluarga yang penuh keharmonisan yang takkan bisa ditiru oleh keluarga-keluarga lainnya. Keluarga yang penuh dengan senyum ramah dan geliat semangat akan menjalani hidup ini. Keluarga yang dihuni oleh empat orang anak adam dan satu orang hawa yang mendampingi keempat adam tersebut.

Hari yang sunyi gelap telah tiba yang dihiasi oleh suara jangkrik dan binatang malam yang menggaung meriuhkan sunyinya malam. Beberapa ribu detik berjalan sampai anak ayam bersiul menandakan waktu pagi telah tiba menyerukan umat manusia untuk segera berserah diri dan membiasakan untuk menghadap Tuhan di waktu yang tak biasa orang lakukan. Satu personil dari keluarga itu telah terbangun ketika dua jam berlalu dari suara anak ayam berciak. Dengan mata yang masih tertutup dan pikiran sudah melebar dan terbuka menikmati indahnya malam. Sesegera dia mencari sebuah saklar lampu kamar dan menekannya untuk menerangi kamar yang terbuat dari sebuah semen yang diaduk dengan pasir dipasang berdiri menyelimuti dari panas, hujan, dan ancaman debu yang bertebaran
Karena bulan suci, ia harus membangunkan ibunya untuk menyiapkan hidangan sahur untuk disantap bersama-sama.

“Bu? Bangun Bu! Saatnya kita untuk menyiapkan hidangan sahur.” ia mencoba membangunkan ibunya.

“Iya agung. Ibu sudah bangun dari tadi, semenjak anak ayam di pinggir rumah kita berkokok.”

Dengan tangan lemas dan kaki serasa tak bertulang, Ibu memaksa melangkahkan kakinya dan mengajak seluruh tubuhnya untuk beraktifitas. Sesegeranya dilangkahkan kaki menuju kamar mandi yang terbuat dari belahan-belahan bambu kecil yang sengaja diposisikan berdiri dan ditancapkan sebuah besi tajam untuk menjadikan bambu-bambu tersebut kokoh menutupi kamar mandi. Dibasuhnya delapan bagian tubuh masing-masing tiga kali sebagai syarat untuk menyucikan diri bertemu dan menghadap Sang Pencipta jagat raya ini. Begitu pun dengan Agung-salah satu personil yang terbangun tadi-yang terlebih dulu membasuh delapan anggota tubuh tersebut untuk menghadap Sang Pencipta.

Dengan gerakan tubuh yang terlihat rapi dan berurutan serta lantunan ayat-ayat suci alquran yang indah keluar dari mulut yang penuh ikhlas. Cukup dua rakaat saja mereka melakukannya sesuai dengan aturan yang berlaku. Dilanjutkan dengan menengadahkan tangan dan kepala mendongak ke atas sembari tercucur air mata luka akan penyesalan setiap kegiatan yang telah dilakukan dalam mengisi hari-harinya.

“Ya Allah ampunilah tanganku ini, jika telah tergerakkan tanpa persetujuanmu. Ampunilah mulutku ini, selama mengisi hari-hariku terlalu mengeluarkan ucapan yang membuat orang sakit hati, menggunjingkan orang. Ampunilah hidungku ini jika telah mencium bau yang tak boleh dicium olehku, ampunilah mataku ini jika di hari tadi aku telah melihat secara sengaja maupun tak sengaja apa yang tak boleh Engkau lihat. Ampunilah keningku jika telah bersujud di antara tempat-tempat yang penuh murka dan penuh kemaksiatan. Ampunilah telingaku jika tak sengaja telingaku ini bekerja di luar jalurnya dan ampunilah kakiku ini jika aku tak mampu menahan gerak langkah kakiku untuk berjalan menuju tempat yang tak boleh ku singgahi.”

Begitulah isi petikan doa yang dipanjatkan oleh kedua orang tersebut. Tak lama, terdengarkan derap langkah lelaki paruh baya menuju tempat yang pertama disinggahi oleh Ibu dan Agung. Sang ayah menyusul mereka untuk berserah diri dan menghadapkan dirinya kepada Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya. Sang ayah asyik dengan dzikirnya sementara agung berlari menuju dapur alami untuk menyalakan api dalam kompor yang terbuat dari tanah liat. Sumber apinya bukan dari minyak tanah tetapi dari belahan kayu-kayu kecil yang diambil dari hutan di belakang rumah. Dengan susah payah agung menyalakan api tersebut seperti di zaman purba dulu. Akan tetapi mereka bukannya tidak mau menggunakan kompor yang terbuat dari kaleng atau kompor gas sekalipun. Mereka merasa dengan semua ini akan terasa nikmat, terasa kita semakin dekat dengan sang pencipta karena kealamian hidup di dunia ini.

Api sudah menyala, saatnya mereka memasak dan menyiapkan santapan sahur pada dini hari itu. Ibu menjadi pemimpin dalam menyiapkan hidangan sementara Agung hanya sebagai kernet untuk membantu Ibu agar tidak terlalu capek. Sang ayah sibuk dengan lantunan ayat Al-Quran yang sudah mencapai Juz 16 setelah ia menyelesaikan dzikir dan doa-doa yang dipanjatkannya.

“Ibu-ibu, bapak-bapak waktu imsak tinggal tiga puluh menit lagi. Bagi yang belum melaksanakan makan sahur, sesegeralah untuk makan sahur!”

Begitulah sebuah peringatan yang diucapkan oleh penjaga mesjid dari penjuru timur, selatan, utara, dan barat. Seiring dengan peringatan tersebut Ibu dan Agung telah selesai menyiapkan makanan dan menaruhnya di atas meja makan.

Terhenti sejenak lantunan ayat Al-Quran dari ayah untuk melaksanakan makan sahur bersama-sama. Agung berlari ke kamar adik-adiknya, dipijitnya tombol saklar lampu rumah dan teranglah ruangan kamar itu.

“De, De, De! Ayo bangun! Saatnya kita makan sahur.”

Butuh empat kali ucapan tersebut keluar dari mulut Agung agar kedua adiknya terbangun dari mimpi yang tanpa Agung ketahui entah itu mimpi indah atau buruk. Kedua lelaki itu yang mempunyai jarak beda usia dengan agung hanya lima tahun dan delapan tahun, sesegera berlari untuk mencuci muka dan menghampiri hidangan itu.

Saatnya ayah menjadi pemimpin untuk membacakan doa sebelum makan dan membaca niat untuk menahan rasa lapar, hawa dahaga, dan hawa nafsu yang dimiliki oleh setiap manusia. Namun raut muka tak sabar nampak terlihat dari muka si bontot diikuti dengan gerakan tubuh yang sangat lucu di antara kekhusukan yang lainnya dalam membaca doa. Dua puluh menit berlalu seiring selesainya kegiatan mereka dalam menyantap makan itu. Masih ada waktu sepuluh menit untuk berisitirahat dan menurunkan makanan ke dalam perut. Hal itu dilakukan oleh mereka sembari mata menatap layar berukuran 15 inci yang menampilkan acara humor oleh pelawak yang sedang menanjak karirnya pada masa itu. Senyum dua senti ke kiri dan dua senti ke kanan beserta suara yang menggelitik telinga keluar dari mulut mereka. Akan tetapi Agung segera mengakhiri senyumnya untuk membersihkan setumpuk kotoran yang menghinggapi piring dan perabotan lainnya yang ikut andil dalam terciptanya hidangan tadi.

Adzan shubuh menggema di telinga ketika waktu imsak sudah lewat sekitar sepuluh menit. Terlihat si bontot yang tadi menebarkan senyum riang tertidur dengan pulas di hadapan layar Jepang tersebut. Namun, Agung tak melihat semua itu. Agung sibuk dengan kegiatannya mencuci piring dan perabotan itu.

“De, De! Bangun dulu sejenak! Kita shalat shubuh berjamaah dulu setelah itu boleh tidur lagi!” ucap sang ayah membangunkan si bontot.

Si bontot hanya meresponnya dengan membalikkan tubuhnya ke sebelah kiri.

“De, De! Ayo bangun dulu!” hanya dua kali ucapan tersebut keluar dari mulut ayah. Namunditeruskan dengan memnggoyang-goyangkan tubunhnya. Cerbeda dengan Agung, yang tak berani membangunkan adik-adiknya dengan menggoyang-goyangkan kaki adiknya, tetapi ayah berani melakukan itu.

Keempat anggota keluarga telah bersiap di ruangan khusus untuk sembahyang. Tinggal menunggu Agung yang masih berwudhu di kamar mandi. Setelah berkumpul tibalah saatnya untuk berjamaah berserah diri kepada sang maha kuasa.

“amin...!” teriak si bontot berbeda dengan yang lainnya. Dia meneriakkan kata itu dengan penuh semangat dan sangat keras. Sejenak mengganggu kekhusukkan yang lainnya. Akan tetapi mereka tak menghiraukannya karena mereka menyadari usia si bontot itu yang masih duduk di kelas satu SMP.

Si bontot kembali menyandarkan kepalanya di atas kumpulan kapuk yang dibungkus rapi dengan kain dan menjepit guling dengan kedua kakinya sampai terlelap kembali. Begitupun sebaliknya yang dilakukan oleh adik kedua Agung setelah selesai berjamaah. Sementara Agung, Ibu, dan Ayah masih berkutat dengan dzikir dan doa yang dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Quran. Namun Agung tidak melakukannya. Agung bergerak dan mengambil air ke dalam sebuah ember dan menaburkan sebuah deterjen kemudian mencelupkan sebuah kain bekas handuk yang tak terpakai lagi. Sambil menunggu deterjen itu larut dan teraduk bersama kain, dia mengambil sapu agar terlihat semakin rapih suasana rumahnya.

Ayah hanya sekitar dua puluh ayat saja melantunkan Al-Quran karena harus sesegera mungkin bersiap-siap untuk pergi melaksanakan sebuah kewajibannya sebagai seorang suami sekaligus pemimpin keluarga yang bertanggung jawab. Akan tetapi, ibu terus melantunkan ayat-ayat Al-Quran. Suasana yang saat itu sangat sunyi berbeda dengan suasana pada bulan-bulan lainnya yang seharusnya sudah banyak orang berlalu-lalang untuk beraktifitas setelah melaksanakan kewajiban menghadap Sang Pencipta. Suasana yang sunyi menemani Agung membersihkan ruangan dalam dan ruangan luar rumahnya dengan menyapu dan mengepel lantai.

Fajar telah menjelang di ufuk timur, suara unggas semakin terdengar nyaring menunggu sang majikan membawakan makanan untuknya. Ibu tertidur di atas sajadah, mungkin karena kelelahan setelah menjadi pemimpin dalam menghidangkan makanan untuk sahur. Ayah pun telah berangkat meninggalkan rumah dan akan kembali ketika senja tiba. Sementara Agung telah menyelesaikan tugasnya sebagai pengganti ibunya sekaligus baktinya sebagai anak kepada orang tua.

Langkah gontai dengan mulut yang sedikit ditahan untuk menguap terlihat akan mengambil sebuah handuk yang tergantung di atas pintu. Namun ketika tangannya akan meraih ujung handuk, terdengar dering telepon genggam yang disimpannya di dalam lemari. Diraihnya handuk kemudian dibukanya pesan yang masuk ke dalam telepon genggamnya.

“Untuk jadwal mata kuliah hari rabu diundur menjadi hari ini pukul 08.00 WIB. Inilah pesan yang dikirm oleh dosen kepada saya.” Begitulah petikan pesan yang masuk ke dalam telepon genggam Agung yang dikirim oleh ketua kelasnya. Seperti orang yang menerima kabar akan terjadi musibah pada dirinya Agung lekas berlari menuju kamar mandi dan bersiap-siap untuk melaksanakan kewajibannya sebagai orang yang intelek. Waktu yang dibutuhkan oleh Agung untuk tiba di gudang ilmu itu kira-kira satu setengah jam. Sementara waktu pada saat itu hanya tersedia satu jam empat puluh lima menit. Agung harus pandai memanfaatkan waktu yang ada.

Dia telah siap dan rapi. Sementara waktu tersisa tujuh puluh delapan menit. Agung segera menghidupkan mesin beroda dua yang dibuat Jepang. Kecepatan tinggi harus ia lakukan seperti para pembalap liar yang berlomba-lomba mempertaruhkan dan memamerkan keunggulan roda duanya di malam hari.

Seperti biasa ketika gelisah mendera jiwa, ketakutan menghantam perasaan muncul kegelisahan dan ketakutan yang memaksa emosi semakin memuncak. "Macet" itulah kata yang paling menjengkelkan bagi semua orang dan itu pulalah yang harus dihadapi Agung. Gelisah jiwa penuh luka yang dirasakan Agung. Diambil telepon genggam dari saku celana sebelah kiri

“Assalamualaikum! Dri, kamu sekarang ada dimana? sudah nyampe kampus belum?” tanya Agung kepada ketua kelasnya dengan tergesa-gesa dan penuh gelisah.

“Waalaikumsalam. Saya masih ada di kostan. Saya baru mau berangkat ke kampus.” Jawab Andri di ketua kelas.

“Bilangin ke dosennya kalau saya masuknya agak telat. Sekarang saya terkena macet. Sementara waktu semakin berjalan. Terima kasih.”

"Iya nanti saya beritahu."

Agung terdiam dan sesekali menjalankan kendaraannya sedikit demi sedikit. dia terpanggang matahari yang masih hangat selama dua puluh menit. Dia terpaksa harus menerima kenyataan ini karena kenyataan atau kejadian ini tidak mungkin dapat diatasi dan terjadi karena jam sekolah dan jam karyawan-karyawan pabrik masuk. Akhirnya setelah dua puluh menit, dia bisa menjalankan kendaraannya dengan lancar. Tanpa mengendurkan tarikan gas kendaraannya, dia berlari diantara aspal panas yang dari kejauhan nampak terjadi fatamorgana sampai dia tiba di sebuah parkiran kendaraaan roda dua. Dia langsung menghentikan dan menyimpan kendaraannya dengan seenaknya karena parkirannya masih sepi dan ia harus segera masuk ke kelas.

Begitulah semangat yang diperlihatkan oleh seorang Agung yang tanpa mengenal lelah, menahan emosi, gelisah, yang berkecambuk di dalam dada yang penuh dengan bulu bak seorang penyanyi dari India. Pintu terlihat sudah berada setengah meter dari batang hidungnya.

“Tok... tok...tok...! Assalamualaikum!” Kepalan tangan Agung disentuhkan ke pintu dengan tenaga yang tersisa dan diikuti dengan gerak mulutnya.

Kemudian ia langsung membuka pintu itu. Setelah berkecambuk dengan emosi dan lelah tak dirasa, raut muka Agung terlihat semakin ditekuk, rambut semakin terlihat acak-acakan, dan muka memerah tajam. Seketika berubah muka Agung setelah melihat bangku-bangku kosong, papan tulis yang masih bersih, dan meja dosen yang tak tertumpuk oleh buku milik dosen. Tanpa banyak basa-basi ditekan nomor yang ada di telepon genggamnya.

“Hallo, Dri kamu bagaimana sih katanya masuk jam delapan? Tetapi di kelas tak ada siapa-siapa padahal sekarang sudah pukul delapan lewat tiga puluh menit?” tanya Agung dengan bibir tergetar menahan emosi

“Duh kasian deh lu ketipu.” Jawaban singkat dari Andri semkin menaikan darah kotor ke dalam otak Agung.

“lu kalau mau nipu jangan ke gua dong! Lu ga tau apa, jarak rumah gua ke kampus itu jauh? Dasar pecundang!” Seketika sikap Agung berubah dari biasanya dan mematikan telepon genggamnya.

Mungkin karena capai atau lupa bahwa hari ini tidak ada jadwal perkuliahan. Agung merasa seperti orang bodoh yang tertikam oleh pedang tumpul yang berkarat yang akan menimbulkkan infeksi pada luka jika tertancap di hati. Semangat melorot di antara emosi yang semakin memuncak. Dia kembali menuruni anak tangga menuju ke sebuah masjid untuk menyerahkan dan mengadu segala kejadian yang dia alami kepada yang menciptakannya. Doa dipanjatkannya setelah melaksanakan shalat ketika fajar mulai miring di timur dan semakin memanaskan bumi. Karena lelah dengan kejadian semua ini dia pun mencoba merebahkan kepalanya yang diganjal dengan tas hitam bervariasi dengan warna abu-abu di atas sajadah yang membentang menutupi seluruh lantai masjid.

Adzan menggema di tengah panas terik mentari memanggil semua umat islam untuk berhenti sejenak beristirahat dan menyucikan diri dan berserah kepada Sang Khalik. Itu pula yang membangunkan Agung dari mimpi yang melepaskan kepenatan di dalam otak yang penuh luka. Dibukanya telepon genggam, ternyata tanpa terasa ada lima pesan singkat yang masuk ke dalam telepon genggam miliknya yang tak lain dan tak bukan adalah pesan dari si ketua kelas yang berisi permohonan maafnya atas kejadian tadi. Tapi Agung tak ingin membalasnya dan tak menghiraukannya. Dia segera melangkahkan kaki menuju tempat mengambil wudhu, ketika dia sedang membasuhkan bagian muka terdengar pengumuman dari penjaga masjid.

“Bagi para jamaah masjid diharapkan agar menghemat air dan mengambil barang-barang berharga yang disimpan di tas dan menyimpannya di tempat yang aman!”

Sontak setelah mendengar kata-kata itu, Lelaki yang penuh semangat dan intelek dalam bidang pendidikan segera menyelesaikan berwudhu. Seperti orang yang sudah mengetahui akan terjadi sesuatu dengan dirinya, dia langsung menghampiri tasnya yang kala itu tak sempat ia titipkan di tempat penitipan barang di samping masjid itu. Tangan meraba ke dalam tas, tak terasa telepon genggam berada di dalam tas, matanya semakin membulat seperti bakso yang sewaktu-waktu bisa melompat dari tempatnya untuk melihat dan memastikan telepon genggam miliknya masih ada di dalam tas.

Entah perasaan apa yang dimiliki oleh Agung. Emosi yang sudah agak reda mungkin akan semakin menumpuk bahkan bisa jadi emosinya akan keluar tak sengaja dengan pelampiasan yang mungkin tak dapat diduga-duga. Setelah tertipu dengan ulah sang ketua kelas kini dia harus menghadapi rencana dan keajaiban hidup ketika telepon genggam yang dibelinya dengan susah payah harus raib ditelan oleh tangan-tangan gaib nan iblis. Bajingan tangan yang terampil itu kini tak lagi mangkal di gerbong-gerbong atau di pasar. Mereka sudah berani memasuki tempat suci untuk dijadikan tempat maksiat. Entah tuhan akan menghukum apa? Tuhan pastinya akan sangat marah dan pasti akan tersinggung tempatnya dijadikan sesuatu yang menjadikan iblis itu semakin pasti menghuni neraka.

Tapi perkiraan itu tidak terjadi berkat ketabahan Agung dan kesabarannya, ia hanya menyikapai semua ini dengan senyuman dan tetap menahan emosi semakin menumpuk di kepala. Dia tidak menyalahkan siapa-siapa. Dia hanya ingin mengintrospeksi diri setelah kejadian itu, dari mulai di jalanan, di kelas, dan sampai masalah raibnya telepon genggam itu.

“Ya Allah ampunilah semua dosaku, aku yakin engkau memberikan semua cobaan itu untuk menguji kesabaranku dan engkau memberikan cobaan ini karena aku telah melakukan sesuatu yang tak engkau restui. Entah itu di waktu yang lampau atau kemarin-kemarin. Karena di balik bening mata air pasti ada air mata, di balik duka pasti ada bahagia. Ampunilah dosaku ya Allah. Ya Allah ampunilah dosa orang-orang yang telah melakukan perbuatan yang sangat membuat orang lain terluka, ampunilah yang mengambil barang di tempat suci ini, berikanlah pintu taubat untuknya!”

Dengan bijak dan penuh kesabaran Agung hanya berdoa seperti itu setelah semua kejadian yang ia alami. Terenungkan hatinya menghadapi semua ini. Karena tak ada lagi hal yang harus ia lakukan ia kembali menuju rumahnya dengan penuh riang menutupi suasana hatinya.

“Pak telepon genggam saya hilang di masjid kampus, ketika saya mau melaksanakan shalat dzuhur.” ucap Agung sesampainya di rumah sambil membuka sepatu kepada sang ayah yang pulang lebih awal dari biasanya.

“Sudah tidak aneh lagi, Gung. Sekarang para penjahat menyusup ke tempat-tempat yang dianggap orang-orang tak mungkin akan ada penjahat.” Itulah jawaban yang sangat singkat dan tak diduga oleh Agung. Dia menduga bahwa ia akan dimarahi oleh ayahnya karena kelakuannya yang teledor. Akan tetapi, semua dugaan Agung ternyata salah.

“Ya sudah, cepat kamu mandi. Setelah itu shalat ashar dan minta ampun sama Allah. dan semoga bapak dapat rezeki, nanti bapak belikan kamu telepon genggam yang baru.”

Jawaban itu semakin membuatnya merasa nyaman dan menguatkan keimanan dan kesabarannya dalam menjalani hidup ini. Jawaban itu pulalah yang membangkitkan semangatnya dalam mengarungi drama kehidupan ini. Mencoba melupakan semua kejadian dan semakin mengambil hikmah dari setiap cobaan yang Allah berikan serta semakin mendekatkan dirinya kepada Allah, tuhan yang telah menciptakannya kemuka bumi ini, dan Tuhan yang telah memberikan berjuta-juta nikmat.


oleh
Janwar

9 komentar:

The Dexter mengatakan...

:o bagaimana dengan aku yah...

raung tertiindas mengatakan...

tentang kamu mungkin sama dengan aku hehehehehehe

umi rina mengatakan...

Orang sabar memang kekasihnya Alloh... :)

Fina mengatakan...

Postingannya semakin teduh. Jadi banyak belajar dari sini. Nice post...

Ocim mengatakan...

makin mantap aja nih potingannya

debrian mengatakan...

panjang banget mas post nya..hee

BlazeFive mengatakan...

wah kita emang harus sabar ya bro..

blaze5.com

Chiko mengatakan...

wah walopun ceritanya long story, tapi ga bosan sy membacanya.. ada sesuatu yang saya pelajari dari cerita diatas, tapi biarlah cuman say yg mengetahui.. hehehe

Angkringan mengatakan...

pak msih igt aku g.................
aku dulu school d SMPN 1 BALONGPANGGAN........
aku anak yg bandel bgt suka berantem sampai2 aku d skorsing............
hayo igt g...............
aku tambain klunya dech, aku adeknya mas antok...
yg dulun tmen pak yusuf d SD..........

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra