01 Januari 2009

Rembulan Menari di Atas Senayan

Rembulan malam itu ditahun 45 menarikan lagu Kebangsaan Indonesia pusaka. Indonesia bersorak-sorak gembira menyaksikan tarian yang merdu dan gemulai. Dengan sejuta mata rakyat menyaksikan gemulai tarian yang indah dan menawan. Sejuta mata saling pandang dan tak pernah ada rasa yang beda selain kasih dan sayang untuk bersatu padu membangun negeri. Negeri Indonesia tercinta

Malam itu tepat tanggal 17 Agustus 1945, Darsono masih saja duduk terdiam di rumah gubuk yang kecil, di rumah gubuk yang hanya berukuran 2x4 meter. Dia mondar-mandir menyaksikan dari bilik jendela orang-orang berkumpul di Senayan. ”Awas kalian! Aku akan membuat tarian. Kalian menjadi tarian senja!” suara Darsono melengking membela sunyinya malam di desa Molo tempat Darsono tingal. Suara itu tak sampai pada orang-orang yang lagi asyik menari di Senayan dengan liukan mesra rembulan malam itu.

Malam itu ketika tangal 18 Agustus 1945 di saat senayan memutuskan mensahkan UUD negara, senayan juga menetapkan presiden dan wakil presiden. Darsono semakin terhimpit pada ruang kamarnya yang hanya berukkurran 1x2 meter. Terasa sempit dan pengap ruang itu, karena ruang itu hanya dipenuhi dengan selebaran-selebaran yang tak karuan rupanya. Selebaran-selebaran itu sebagian telah dimakan rayap. Dan sebagian yang di bawah ranjang tidurnya telah dikencingi kucing yang sering iseng sendiri masuk kedalam ruangan kamarnya. Ruangan yang terbuat dari sesek yang telah dilumuri tai sapi itu semakin terasa pengap karena hujan semakin deras menguyur desa itu tepatnya desa Molo di lereng gunung Bromo.

Darsono sesekali tampak menangis karena badannya mengigiil. Tapi masyarakat tidak peduli dengan panasnya sengatan matahari. Karena masyarakat mengangap jika sakitnya Darsono bukanlah sakit yang sangat menggangu. Sakitnya dirasa hanya sebuah nostalgila Darsono. Baju compang camping yang dikenakan juga hanya sebuah acara pagelaran teater yang diperankan Darsono di gubuk tuanya bersama sejuta pasukan semut dan nyamuk.

Lama-lama Darsono tak kuat lagi dengan perlakuan masyarakat desanya. Pagi itu iapun memutuskan meningalkan desa yang dicintainya. Desa di mana tumpah darahnya untuk pertamakali disaksikan dalam hidupnya. Darsonopun mengumpulkan sisa-sisa makanan yang masih ada. Dua buah baju yang compang-camping dibungkus dengan kain sarung yang kumal. Dengan tongkat kecil ia membuka pintu rumah depannya.

”Aku tak ingin kembali ke rumah nista ini. Aku tak akan pernah mengingat rumah yang kumal ini. Aku tak akan pernah menyapa masyarakat yang kejam ini."

Dengan suara yang mengumpat Darsono akhirnya membakar gubuk yang selama 30 tahun ditempatinya sendiri. Darsono berpikir jika gubuk itu tak dibakar mungkin suatu saat jika dia mendapat kesusahan dalam hidup ia akan berfikir untuk kembali kerumah dan berjumpa dengan masyarakat yang sangat dia benci.

”Lebih baik mati berkalang tanah daripada aku harus kembali ke tempat yang nista ini.” teriak Darsono. Iapun membalikkan badan dan melangkah ke arah semak-semak yang semakin lama memakan tubuhnya yang mungil hingga tak tampak lagi tubuhnya yang kumal.

Pagi itu masyarakat desa Molopun tak mengerti apa yang telah dilakukan oleh Darsono. Masyarakat berpikir jika Darsono telah gila karena kemiskinannya. Mungkin saat itu semua orang tiada mengerti apa yang dialami dan dipikirkan Darsono. Mereka hanya melihat apa yang ada di depan matanya tapi tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Darsono.

Sesekali, setiap bulan masyarakat berdoa dan mengirim sesajen di bekas rumah darsono. Masyarakat berharap agar Darsono selamat dalam perjalanan, dan sukses di tempat tujuan. Mereka berpikir jika Darsono tidak didoakan selamat dan sukses mungkin satu saat akan kembali kedesa mereka. Yang akhirnya hanya bisa merusak suasana damai desa Molo. Doa masyarakat tak sama, ada yang berdoa agar Darsono sampai di ujung negeri, di ujung dunia, di desa sebrang, di kota yang indah, di rumah yang sempurna, bahkan ada yang berdoa agar Darsono sampai di rumah sakit jiwa hingga tak ada yang bisa digangu oleh keusilannya. Karena di sana pastinya ia akan dibelengu oleh dokter yang selalu membawa mesin listrik pencegah rasa gilanya.

Entah karena kebetulan atau nasib baik sore itu di saat senja semakin menguning sebelum mega menampakkan batang dahannya yang selalu menjalar hingga menutup bumi pertiwi Darsono telah sampai di kota. Tak terasa pikir Darsono berjalan mengikuti arah matahari. Dengan pakaian compang-camping tak beralas kaki ia terus melangkah menyusuri hutan yang lebat. Sesekali kakinya lecet tapi tak pernah dirasakan. Mungkin karena keinginannya untuk merubah nasib yang membuatnya bertahan dari segala rintangan. Sore itu sebelum senja Ia sampai di aliran sungai Ciliwung dekat kota Adik pertiwi Indonesia. Iapun memutuskan untuk duduk sejenak menikmati suasana segar sungai Ciliwung yang penuh dengan sampah organik dan non organik.

”Aku harus mandi, badanku harus bersih karena aku ingin hidupku lebih baik.” Darsono pun mulai memutuskan untuk mandi di sungai Ciliwung itu. Setelah 30 tahun ia tak pernah merasakan air. Rasanya air Ciliwung adalah air dari surga yang diciptakan untuknya hari ini.

Sesekali Ia teringat canda tawa teman-temannya di waktu kecil dulu. Saat Ia dan kawan-kawanya sedang menikmati masa kanak-kanak di lereng gunung Bromo. Rasa itu masih diingat dengan jelas dalam pikirannya. Ia pun melanjutkan mandinya di sungai Ciliwung. Tak ada sabun dan sampo pun tak masalah pikir Darsono tanah liat pun tak apa. Bukankah Tuhan menciptakan tanah liat lebih mulia dari sabun dan sampo. Ia mandi dengan tenangnya menikmati air yang mengalir deras dari got-got yang mengalir dari kamar mandi masyarakat yang terus mengalir. Di Got-got yang beriringan mengalir sejuta limbah dari sabun masyarakat serta buangan bekas-bekas makanan yang tersisa.

Amboi! Seakan siang itu menjadi siang yang sangat beruntung bagi Darsono. Dari kejauhan terlihat orang membuang setumpuk pakaian yang sedikit usang.

”mungkin orang itu lagi bosan dengan pakaian itu, ataukah pakaian itu sudah dianggap tidak cocok untuk masyarakat. Mengapa orang-orang itu tiada pernah mau menyumbangkan pakaian itu untuk mesyarakat yang membutuhkan. Sungguh orang-orang disini lebih kejam dari orang-orang digunung bromo” celetuk darsono.

Darsono pun mendekati setumpuk pakaian yang telah dAdikang kedalam selokan sungai ciliwung. Iapun mulai memilah-milah pakaian yang tampak sediklit kumal.

”Amboi! Ini sangat cocok untuk aku. untuk melangkah ke kehidupan yang lebih baik.” Darsono mengambil setelan jas berwarna kuning yang sedikit Mbulak Iapun lekas mengunakan pakaian itu.

”Ini benar-benar pakaian yang fantastis. Hebat benar setelan jas kuning ini” akhirnya darsono memutuskan untuk berjalan menyusuri lorong perkotaan. Di sana ditemuinya sejuta rupa-rupa manusia Adikkota.

Di kala Darsono menemui orang yang berbusana telanjang karena pikirannya hilang Iapun berseru ”Amboi! gila benar orang itu! Di kota metropolis tiada mengunakan busana.” namun saat Ia menjumpai seorang pejabat dengan mengunakan setelan jas yang indah dengan dasi di lehernya Iapun bergumum ”Gila benar orang itu! Bagus benar pakaian yang digunakan.”

Malam itu di saat bulan purnama menari dengan bintang-bintang yang indah. Ia duduk termenung menyaksikan sebuah bangunan yang penuh dengan pesona malam. Lampu dengan Satu juta waat menyala seakan sebua irama tarian yang meliuk-liuk. Warnanya lebih indah dari pelangi yang sering Ia lihat di gunung Bromo.

”Amboi alangkah indahnya pemandangan ini. Inikah sejuta rembulan yang menari-nari yang sempat kusaksikan dari gubuk tuaku dulu” Darsono merasa keheranan melihat suasana malam di depan gedung yang megah.

Darsono tak pernah melihat sebuah rumah yang begitu megah yang dikelilingi dengan cahaya seradik rembulan yang indah. Cahaya yang selama tiga puluh tahun hanya diangapnya satu. Cahaya rembulan namanya.

”Apakah aku sudah ada di surga?” pikir Darsono ”Apakah ini rumah Tuhan yang maha agung? Apa benar Tuhan itu ada? Apa benar rumah Tuhan itu penuh dengan sejuta rembulan?

Sungguh Tuhan tidak adil karena manusia sejagat saja hanya diberi satu buah rembulan saja. Sedang di rumah Tuhan sejuta rembulan dengan warna yang beragam disiapkan. Apa Tuhan tidak silau?” Darsono semakin tak mengerti.

”Hai!”

sesosok anak kecil mungil sekitar enam tahun menyapa Darsono dari arah belakang. Darsonopun terkejut.

”Hai juga! saut Darsono. ”Ada apa anak kecil?”

”Bapak mengapa melamun disini?”

”Aku ingin menyaksikan sejuta rembulan yang dijajar di rumah Tuhan.”

”Apa rembulan? Maksudmu lampu-lampu berwat-wat itu? lampu istana itu?"

”Iya benar istana Tuhan itu. Lampu Tuhan adalah rembulan di dunia”

”Itu bukan rembulan, tapi itu adalah lampu, Pak."

”Aku tak mengerti apa maksudmu, Nak.”

”Aku semakin tak mengerti apa yang kau pikirkan, Pak.”

”Lalu, apa yang ada di depanku ini, Nak?” tanya Darsono terheran.

”Itu adalah Senayan. Gedung tempat pemimpin bangsa Indonesia membuat Undang-undang” jawab anak kecil.

”Undang-undang untuk mensejahterakan rakyak maksudmu?”

”Ya iyalah”

”Lalu mengapa banyak rakyat indonesia yang miskin, Nak?”

”Karena di Senayan juga diciptakan undang-undang kemiskinan.”

”Maksudmu, Nak?"

”Disana dibangun undang-undang kapitalisme yang melindungi pengusaha kaya. Jika mereka dililit hutang maka disubdidi dana dari Bank Indonesia. Sedangkan jika masyarakat miskin yang terlilit hutang maka diminta makan nasi sagu dan nasi jagung saja. Itupun hanya himbauan dari mulut mereka tanpa diberi sumbangan dana sepeserpun.” Jelas anak kecil.

”Benar-benar kejam Senayan ini.”

”Memang tarian rembulan malam ini adalah tarian yang mengiris darah kita, Pak. dari Senayan inilah semua bermula. Dan dari Senayan inilah semua akan berakhir. Setiap keputusan dari pencurian, pemerkosaan, pembantaian, korupsi akan aman jika berakhir di meja para parlementer di gedung ini.” terang si kecil.

”Sadis benar Senayan ini ya, Nak? lebih kejam dari masyarakat molo Bromo.” jelas darsono

”Jika ingin tidak merasakan tarian rembulan maka masuklah kesenayan ini, Pak. Jadilah bagian dari mereka!”

Setelah berucap anak itupun berlalu meningalkan Darsono.

Darsonopun merebahkan tubuhnya di trotoar depan Senayan. Wajahnya meneteskan air yang selama ini air itu tak pernah ditumpahkannya ke bumi. Darsono memandangi rembulan yang sedang purnama. Rembulan yang menari-nari di atas air mata Darsono. Darsono pun memejamkan mata hingga rasa tak pernah sampai pada jiwanya lagi.



oleh
Yusuf Ali

6 komentar:

Umi Rina mengatakan...

Baru tahu kalau rembulan bisa menari... :)

Jika kamu ingin sukses di dunia, carilah ilmu dunia setinggi-tingginya...
Jika kamu ingin sukses di akhirat, carilah ilmu akhirat setinggi-tingginya...
Dan jika kamu ingin sukses di keduanya, carilah ilmu keduanya setinggi-tingginya...

Tetap semangat dan berprasangka baik, semoga di depan sana jadi lebih baik!!!

frizzy mengatakan...

Halo sobat, met taun baru.
Let's keep blogging and our teen spirit...

Cheers, frizzy2008.

erwinyustiawan mengatakan...

walah mas panjang amat nie cerpennya..heheh :)

Ali Munandar mengatakan...

maka dari itu kita harus menghargai jasa para pahlawan kita

KOPI Sastra mengatakan...

@ Umi Rina.. Kami akan selalu semangat... terima kasih, Ummi.

@frizzy.. Selamat tahun baru jua frizzy

@erwinyustiawan.. Kn namana jug erpen... kalau lebih panjang lagi Novel, Bang!! :))

SUPRIH dan ISTI mengatakan...

wah bakat jadi sastrawan nih.....pasti kuliah di jurusan sastra danbahsa ya?!? karena bahasanya keren banget......cuma nebak aja lo... klo salah ya maap deh

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra