22 Januari 2009

Pada yang Kuciptakan untuk Seorang Perempuan I

Adalah mahligai yang tercantum di atap yang tergerai
Mengombak dan terbawa nafas pohon-pohon dan rerumputan
Dan yang kucari dibelantara tiaramu
Adalah kilau yang mengerling

Mengkristal pada saat kau ucap dan kecup rembulan dan bebintang
Maka yang kuciptakan di sekujur wajahmu
Adalah perjalanan bibirku untuk mengecup keningmu sampai ke hatimu

Terdalam. Dalam-dalam
Pada yang kuciptakan untuk seorang perempuan
adalah pucuk-pucuk melati dan akan memutih

ketika kau lambaikan cahaya itu di bukit yang telah menjadi malam

oleh Ihsan Subhan

8 komentar:

Lis Indra mengatakan...

Ada imaji gerak dan visual dalam diksimu.
Namun...
Ada juga feeling bahwa yang kau ciptakan untuk perempuan itu sebentar lagi menghilang.

/mengombak terbawa nafas pohon-pohon dan rerumputan/

/adalah pucuk-pucuk melati dan akan memutih/

/ketika kau lambaikan cahaya itu di bukit yang telah menjadi malam/



Terbawa nafas ( tentu tak akan kembali),
pucuk melati akan memutih (setelah itu layu, luruh, dan tiada)
lambaian di bukit (betapa jauh dari jangkauan)
Telah menjadi malam ( tak terjangkau oleh pandang mata)


Adakah demikian, kawan....?

KOPI Sastra mengatakan...

menurut saya sebagai editor KOPI Sastra memang demikian..
bagaimana menurut si penulis (Ihsan Subhan)?

bagus pras mengatakan...

hmmmm, puisi yg indah...

awie mengatakan...

seperti ada kebimbangan menyelimuti hati,wealah sok nebak nih salam hormat dari cilacap mas

umi rina mengatakan...

Berangan-angan tentang seorang perempuan yach???
Tenang... menurut data statistik, perbandingan laki-laki dan perempuan di Indonesia adalah 1:8, jadi tetap semangat yach!!! :)

asnur mengatakan...

Apapu itu maknanya,, Namun tetap tulisan ini tetap indah untuk dinikmati_

Sukses Sahabatku:)

kamar sastra mengatakan...

SALAM ASTRA,
SAYA IHSAN SUBHAN. terima kasuh atas pendapat teman-teman mengenai puisi yang saya cipta. saya membuat puisi PADA YANG KUCIPTAKAN UNTUK SEORANG PEREMPUAN I itu dibuat dengan diksi yang sederhana, akan tetapi tidak mengesampingkan makna yang terselubung di dalamnya. ini adalah luapan yang kuciptkan ketika dalam proses merindukan seseorang, dan saya menciptakan perempuan itu sebagai bentuk yang ingin sekali saya raba, rasa, dan pandang. sebab terlampau jauh di pelupuk mata, maka saya menyempurnakan bentuk itu dengan visualism dan gesture dalam diksinya. terima kasih. hanya itu yang dapat saya sampaiakan. pada saat ini.

Ardy Kresna Crenata mengatakan...

kalau ditanya apakah saya suka puisi di atas
saya bakal jawab "nggak". karena kalau buat saya puisi di atas masih 'belum rapi'. tapi saya suka bagian ini

"Maka yang kuciptakan di sekujur wajahmu
Adalah perjalanan bibirku untuk mengecup keningmu sampai ke hatimu"

mohon dimengerti. ini masalah selera saja. hehe. ^^v

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra