23 Januari 2009

Jendela

Aku berdiri menatap sebuah rumah. Warna catnya masih baru. Pekarangannya pun cukup luas. Garasi pun ada. Di belakang rumah itu ada sebuah danau dan taman kecil. Pepohonan yang berjejeran melambaikan dedaunannya. Terkadang menerpa permukaan danau itu.

Suara gesekan pagar besi rumah itu membangunkanku dari lamunan. Rupanya Dullah sedang mengangkuti semua barang-barangku masuk ke dalam rumah itu. Aku melangkah masuk melewati pagar besi yang mulai karatan itu. Sebenarnya ini kali kedua aku memasuki rumah ini. Beberapa hari yang lalu aku datang ke rumah ini sekedar melihat-lihat, apakah cocok untukku. Pemilik rumah ini telah menjualnya kepadaku kemarin. Sebenarnya ia enggan menjualnya karena rumah itu sangat ia sayangi. Ia dan istrinya telah hampir dua puluh tahun menempati rumah ini. Tetapi semakin ia menempati rumah ini semakin ia mengingat anak semata wayangnya yang telah meninggal setengah tahun yang lalu. Anaknya yang berumur 10 tahun jatuh dari jendela yang berada di ruang tengah rumah itu. Rumah itu mereka namai rumah kenangan karena ada banyak kenangan anaknya yang masih hidup disetiap sudut-sudut rumah itu. Kadang suami istri itu mendengar derai tawa anaknya di tengah malam. Kadang pula suara tangis yang pilu.
Semua barang-barang telah diangkut oleh Dullah ke dalam rumah. Tidak banyak barang-barangku mengisi rumah kenangan ini. Karena segala perabot rumah itu masih utuh. Pemiliknya tidak mau mengambilnya. Segalanya dihadiahkan olehku. Sungguh beruntung aku mendapatkan rumah ini. Hari ini pemilik rumah yang baru adalah aku. Pemilik yang lama telah berangkat ke Pinrang pagi tadi, katanya kembali ke rumah lamanya di sana. Pemilik lama hanya berpesan kepadaku untuk menjaga dan merawat baik-baik rumah ini. Lagi pula masih ada Dullah, pembantu suami istri itu dulu masih bekerja di sini. Jadi masih ada orang yang membantuku merawat rumah ini.

Tak terasa siang telah berlalu. Rasa letih menyerangku akhir-akhir ini. Mungkin lelah mencari rumah yang cocok untuk aku tempati. Raga ini aku rebahkan di sebuah kasur salah satu kamar. Rumah itu mempunyai tiga kamar. Dua kamar di depan dan satunya lagi di belakang. Mungkin kamar Dullah. Aku merebahkan raga ini di kamar yang jendelanya menghadap ke barat. Perlahan aku pun tertidur.

Suara ketukan pintu Dullah membangunkanku dari lelap yang hanya beberapa saat. Ternyata hari sudah sore. Pembantu itu membangunkanku untuk makan karena dari tadi siang perut belum terisi apa-apa. Itu pun aku baru ingat. Saat bangun aku pun langsung mandi.

Selesai mandi, saat kaki ini hendak melangkah ke luar, mataku tiba-tiba menangkap pemandangan yang indah di balik jendela itu. Segera aku menghampiri jendela itu. Perlahan kubuka. Hawa sejuk langusng menerpaku. Jendela kamar ini sangat unik. Ada ukiran di sekelilingnya, ukiran bunga kamboja. Melihat ukiran itu membuat bulu kudukku merinding. Ukiran itu mengingatkanku pada kuburan. Bukankah bunga kamboja banyak tumbuh di sela-sela makam manusia. Tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Pemandangan yang ada di depanku mampu mengusir rasa takut itu. Di seberang barat sana, awan kemerah-merahan. Sore akan segera berlalu sebentar lagi. Burung-burung mulai hilir mudik mencari tempat untuk menikmati malam ini. Matahari yang kekuning-kuningan itu seakan-akan hanya berjarak beberapa meter dariku. Ingin sekali aku meraihnya dan memajangnya di kamarku.

Telah hampir tiga bulan rumah kenangan ini aku tempati. Semuanya biasa-biasa saja. Kamar depan aku jadikan tempat kerjaku. Cukup luas juga untuk dijadikan galeri lukisan-lukisanku. Sedang kamar tengah aku jadikan kamarku karena di balik jendela kamar itu ada pemandangan yang indah setiap hari kulihat. Aku telah menyelesaikan sepuluh buah lukisan selama rumah ini aku tempati. Tiga bulan ke depan akan dipamerkan di sebuah pameran lukisan di Gedung Kesenian Societet De Harmoni Makassar. Jadi aku harus menyelesaikan dua puluh buah lukisan sebelum jatuh hari yang telah ditentukan oleh Pak Hamdan selaku penyelenggara pameran lukisan itu. Jadi masih ada sepuluh lukisan yang mesti aku selesaikan. Tetapi aku masih punya banyak di galeri, kalau tidak selesai pada hari yang telah ditentukan, aku mengambil yang ada di galeri saja.

Hari ini aku mempunyai janji dengan Pak Hamdan di sebuah cafe. Hanya untuk membahas lukisan-lukisan yang akan aku pamerkan di pameran nanti. Aku menyuruh Dullah menjaga rumah selagi aku pergi. Tidak lupa aku mengingatkan kepadanya untuk menyiram bunga anggrek yang ada di halaman rumah. Tetapi inikan musim hujan jadi tidak usah disiram karena akan ada hujan yang menggantikan tugas Dullah. Apalagi siang ini awan kelihatan mendung, pertanda akan turun hujan. Aku pun meninggalkan rumah dengan mobil yang sedari tadi telah dibersihkan Dullah. Saat beranjak pun aku masih mendengar suara gesekan pagar besi karatan itu yang membuatku meringis.

Ternyata Pak Hamdan telah menungguku dari tadi. Aku pun menjabat tangannya lalu berbincang-bincang mengenai lukisan. Selain itu, aku memberitahukan juga soal kepindahanku ke rumah kenangan beberapa bulan yang lalu. Ia sangat terkesima mendengar penuturanku mengenai rumah itu. Entahlah, sejak menempati rumah itu aku menjadi kesetanan melukis. Aku bisa menghasilkan empat buah lukisan dalam waktu seminggu. Bayangkan, bagiku rumah itu sangat inspiratif. Sangat cocok untukku mengerjakan pekerjaanku sebagai pelukis. Apalagi tempatnya agak sepi. Hanya ada beberapa rumah tetangga, itu pun letaknya agak berjauhan.

Pak Hamdan tertarik pada ceritaku mengenai pemandangan indah yang aku lihat setiap hari di jendela kamarku. Yah, pemandangan indah menurutku. Sejak pertama melihatnya hingga sekarang. Seorang wanita cantik yang selalu memakai gaun pengantin sambil berdiri di dekat jendela. Rambutnya ia biarkan terurai dan dipermainkan oleh genitnya angin. Ia selalu saja tersenyum. Matanya jernih, tetapi kulihat tatapannya selalu kosong. Entah apa yang ia cari. Wanita itu selalu berada di dekat jendela setiap sore. Matari sore yang kekuning-kuningan seolah-olah berada di atas kepalanya. Membuatnya semakin bercahaya. Wanita itu selalu memainkan biola. Sungguh pandai ia memainkan benda kecil itu. Iramanya pun sangat merdu didengar. Melihatnya bermain biola di dekat jendela itu mengingatkanku pada novel Andrea Hirata-Maryamah Karpov. Kadang aku mengira dialah Nurmi yang diceritakan Andrea di dalam bukunya. Tetapi bukan. Menurut Dullah, nama wanita itu Maya. Matanya akan selalu jernih dan terbuka tetapi tidak bisa melihat. Hanya biola pemberian kekasihnya setahun tahun yang lalu yang selalu menemaninya. Jika ia merindukan kekasihnya, biola itu akan mengeluarkan perasaan rindunya dengan keluwesan gesekan-gesekan oleh jemarinya. Kekasihnya telah pergi dan selama setahun ini tidak pernah datang mengunjunginya lagi. Tetapi ia selalu percaya bahwa suatu saat kekasihnya akan datang mengunjunginya untuk dijadikan istri. Di jendela itulah ia melepaskan kepergian kekasihnya.

Sungguh. Aku tertarik pada kisah wanita yang bernama Maya itu. Aku jatuh cinta pada kisahnya. Bahkan akan aku jadikan lukisan terakhirku.

Tak terasa hari sudah sore. Tetapi kulihat Pak Hamdan masih suka lama-lama berbincang denganku. Makanan pun telah habis ludes dimakan oleh mulut rakus kami. Hanya tinggal gelas yang berisi kopi masih tersisa. Tiba-tiba aku menjadi gelisah. Beberapa kali melihat ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Perkataan Pak Hamdan kutanggapi apa adanya. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Bahkan aku tidak mau melewatkannnya sore ini juga. Melihat tingkahku yang resah itu, Pak Hamdan mengerti. Pertemuan itupun berakhir dengan senyum yang tergantung di bibir masing-masing.

Mobilku melaju dengan cepat. Sore akan segera berlalu. Di tengah jalan hujan tiba-tiba turun denga derasnya. Pemandangan di depan jadi kabur oleh air hujan. Tetapi aku tidak mau melewatkan pemandangan indah di balik jendela itu. Aku akan merasa menyesal jika melewatkannya. Aku seperti kesetanan mengemudi. Menembus derasnya hujan. Sesampai di depan rumah, aku langsung membuka pagar. Suara gesekan besi karatannya tidak aku hiraukan. Suara yang kadang membuatku meringis hingga ke hati. Dullah yang ada di belakang rumah kaget melihatku seperti diburu-buru sesuatu. Aku langsung membuka pintu kamar tetapi tidak bisa. Ah, aku lupa. Kunci kamar itu aku simpan di dashboard mobil. Di tengah jalan tadi handphoneku tiba-tiba berbunyi. Ternyata dari istriku. Saat Handphone itu aku rogoh di saku jaket kulitku, bersamaan itu pula kunci kamarku jatuh. Aku lalu mengambilnya dan menyimpannya di dashboard mobil. Itupun kulakukan tanpa sadar. Pikiranku hanya pada rumah kenangan itu. Aku juga lupa apa yang telah dikatakan istriku tadi. Hanya suara perempuan merindukan suaminya yang aku dengar. Aku berlari menuju mobil. Ternyata mobil itu terparkir di depan rumah. Aku lupa memasukkannya di garasi. Itupun gampang saja aku lakukan, hanya memanggil Dullah membukakan pagar. Tanpa pikir panjang aku berlari menembus hujan menuju mobilku. Kunci kamar itu segera aku cari di dashboard mobil tetapi tidak ada. Hujan semakin deras sedang malam semakin mendekat. Pakaianku basah kuyub. Aku seperti dikejar-kejar maut.

Lama aku mencari kunci kamar itu tetapi tidak ketemu. Semuanya telah aku bongkar. Aku tersentak, baru ingat kalau kunci kamar itu telah aku masukkan kembali ke saku jaket kulitku. Saat hendak ke luar mobil, kunci itu aku ambil kembali. Jaket kulitku lalu aku tanggalkan sebagai pelindung dari hujan ketika turun dari mobil berlari menuju rumah. Karena basah, jaket itu lalu aku lemparkan ke sofa di ruang tamu. Dengan kesal aku berlari lagi kearah rumah. Kali ini tak kalah basah kuyubnya. Aku lalu meraih jaket itu yang terbaring di sofa. Kurogoh sakunya, bibirku tersenyum. Kunci itu aku temukan. Segera aku berlari menuju kamar. Klik, pintu kamar itu terbuka. Aku menghampiri jendela, tetapi aku baru sadar. Kuhabiskan waktuku sisa sore itu untuk mencari kunci. Pemandangan indah itu pun kini tidak ada lagi terpajang seperti biasanya.





Daeng Tata, 12 Januari 2009
Saat rinai hujan menemani pekatnya malam ini

oleh
Aas Reandysar

9 komentar:

bagus pras mengatakan...

Sungguh. Aku tertarik pada kisah wanita yang bernama Maya itu. Aku jatuh cinta pada kisahnya. Bahkan akan aku jadikan lukisan terakhirku.

Setahuku...bila jatuh cinta.., akan semakin berkreasi......hmmm, cerita yang indah yang dimulai dari jendela.

umi rina mengatakan...

Inspirasinya bagus, dari sebuah jendela..., sayangnya soal jendela itu sendiri kurang dieksplorasi ya??? *sok tahu..., kabuur...*

Lis Indra mengatakan...

Salam untuk Maya....

Sayang sekali kaulewatkan begitu saja sore terakhirmu tanpa melihatnya.

Semoga selalu menjadi sumber inspirasimu, Kawan....

Ocim mengatakan...

wah yang ini panjang, ngga seperti biasanya ...

btw berbobot banget nih mas postingannya...

balidreamhome mengatakan...

bagus bro cerpennya, menarik dan misterius :-)

Anonim mengatakan...

tertarik ma maya yah...?? Sosok yang misterius dalam cerpen ini. sungguh kasihan lelaki itu melewatkan sorenya, melihat sebuah kesempurnaan baginya. Thanks buat komentarnya...saya tunggu yg lain deh...

aas reandysar

Anonim mengatakan...

hai lis indra, salam balik tuh dari Maya...

by : the author

pemilik kedai mengatakan...

jendela.....
aqu juga suka jendela.....

nice post!

Anonim mengatakan...

guw pengen bisa kaya si penulis dunk!!
^_^

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra