11 November 2008

Manungsa Rekasa

Detik demi detik terlewat penuh duka
Memikul derita yang bertambah tambah
Teringat usia semakin tua
Menanti ajal pelipur lara

Tangan-tangan sudah terkelupas sejarah
Memetakan garis-garis yang tak berarah
Terukir tangis yang sudah tak terasa
Detik demi detik terlewat penuh duka

Khalifahmu berlaku tak adil
Bertahtakan gemerlapnya darah-darah manusia
Memaksa jelata hidup merana
Memikul derita yang bertambah tambah

Teringat usia semakin tua
Lelah untukmu mengejar asa
Menaklukkan beban-beban dunia
Yang semakin menjulang tak terhingga

Sudah selesai pengharibaanmu terhadap masa
Menanti ajal pelipur lara
Sebagai hadiah dari Sang Maha


Lisno Setiawan

1 komentar:

fitri mengatakan...

dan bila saat itu tiba..
biarlah lara lepas bersama...


salam kenal,
http://ilalangbasah.wordpress.com

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra