20 Oktober 2008

Peron II Stasiun Bogor

Tepat pukul 04.15 pm aku tiba di dalam stasiun Bogor. Seperti biasa sebelum masuk dan menaiki rentetan gerbong yang tersusun yang biasa disebut kereta api, para penumpang harus membeli karcis yang sudah tersedia. Harga dari setiap karcis pun bervariasi, ya tergantung hendak ke mana kita memiliki tujuan. Aku membayar harga karcis sebesar 1.500 rupiah karena aku hanya naik kereta itu cuma sampai stasiun Bojonggede. Stasiun Bojonggede itu berada tepat setelah stasiun Cilebut, ya ... stasiun Cilebut. Itu apabila aku membeli karcis pada pukul 12.00 pm hingga kereta terakhir nanti meluncur, sedangkan bila aku membeli karcis sebelum jam itu aku harus membayar 2.000 rupiah. Sebenarnya aku tidak tahu pasti apa alasannya harga karcis itu berubah pada jam tertentu. Mungkin, memang sudah harus seperti itu.
Ayunan langkah yang sudah cukup lelah kuarahkan menuju sebuah mushola mungil yang terletak di sudut stasiun karena aku belum menunaikan shalat Ashar sekarang ini. Setelah selesai shalat dan merapihkan barang bawaanku aku segera keluar, barangkali sudah ada kereta untuk menghantarku pulang. Ketika tiba di luar mushala hati terasa tenang, pikirankupun menjadi agak lebih sejuk. Sebelumnya kepalaku seakan sesak oleh tugas-tugas ujian akhir semster yang diberikan oleh para dosen pembimbingku.
Segera aku mencari tempat untuk istirahat, sekedar duduk-duduk. Tetapi aku melihat tidak ada tempat duduk yang kosong, sampai-sampai bangku para penjajak makanan dan minuman pun terisi oleh para penumpang yang menunggu kereta. Sepertinya hari ini kereta datang terlambat, memang kereta ekonomi di negeriku ini sering datang terlambat. Tidak jarang aku menunggu kereta hingga rasa jengkel datang menghampiriku untuk memaki para pekerja perkeretaapian. Itulah, resiko bila menggunakan jasa kereta untuk pulang pergi ke kampusku tetapi naik kereta itu aku anggap lebih mengasikan dibanding naik bus atau angkot, sebab banyak waktu yang bisa dimanfaatkan untuk membaca, melihat barang-barang unik dan jajan yang harganya relatif murah.
Sudah hampir lima belas menit aku menunggu tetapi kereta ekonomi jurusan Jakarta belum juga menampakan diri. Aku memutar pandanganku barangkali sudah ada bangku yang kosong tetapi nihil semua bangku masih penuh. Seketika secara tidak sengaja aku melihat ada seorang laki-laki yang berkewarganegaraan asing sedang memegang gitar sedangkan di depan kedua mulutnya terdapat harmonika yang diletakan pada tempatnya. Aku jadi bingung mau apa orang itu? . . . . apa ia pengamen? . . . masa tourist ngamen sih. Dalam benaku tidak percaya bahwa ia adalah pengamen.
Tidak lama berselang setelah kereta Pakuan tiba dan berhenti, ia naiki kereta itu. Tampak ia berbincang dengan dengan seorang musisi jalanan yang memang sering kumelihatnya. Aku melihat orang-orang berdatangan bahkan pedagang mengerumuninya, sebenarnya aku sangat ingin mendekat tapi kuurungkan itu, akhirnya aku melihat dari kejauhan saja. Yang aku bingung apakah orang asing itu memang hendak menjadi pengamen. Aku masih belum bisa percaya!.
Akhirnya yang ditunggu datang, ya . . . kereta ekonomi jurusan Jakarta tiba pada jalur empat. Tampak orang-orang berbondong-bondong menuju kereta itu karena memang sudah lama menanti kedatangannya. Aku masih tetap berdiri dan memperhatikan orang asing itu. Setelah suasana agak sepi dari serbuan orang untuk menaiki kereta aku baru melangkah menuju jalur empat untuk menaiki kereta yang baru saja tiba, sesekali aku kembali menatap ke arah orang asing tadi.
Setibanya dalam gerbong aku mencari tempat duduk, namun lagi-lagi aku tidak dapat bangku untuk duduk. Aku mencoba menelusuri gernong lain ya tapi hasilnya sama saja. Aku memilih untuk berdiri dekat pintu agar dapt merasakan tiupan angin yang menyentuhku. Mataku menatap kembali pada peron II yang jelas sekali terlihat orang-orang di sana berkurang karena kepindahannya menuju kereta yang sekarang kuinjak ini. Terdengar suara alunan musik yang dimainkan oleh musisi jalanan, secara sponta aku menatap kearah suara itu. “Wah, ternyata orang bule itu memang pengamen”. Ia sedang asik memainkan gitarnya sambil menggoyangkan badan bersama pengamen lokal yang tadi berbincang bersamanya. Aku mendengarkan alunan musik itu, “asik juga bermain musiknya”.
Kereta yang kutumpangi pun perlahan melepaskan ikatannya pada rel, perlahan melaju semakin lama semakin cepat hingga hilanglah pemandangan yang tampak di peron II stasiun Bogor. Lelaki asing itu pun lenyap pada pandanganku, kini ia berada dalam hayalanku yang berubah menjadi senyuman pada bibirku. Sejenak aku bertanya, mengapa orang asing itu memilih menjadi pengamen, apakah ia tidak memiliki pekerjaan lain? . . . . lama aku berpikir hingga aku merasa pikiranku ini mulai rancu, akhirnya justru kembali bertanya pada diriku sendiri. “Kenapa aku ini memilih untuk menjadi mahasiswa?” dan aku memikirkan berbagai macam jawaban yang ada dan berkeliaran pada otak. Mungkin aku juga bingung, tetapi yang pasti aku tidak melihat akan jadi apa nanti sebab hasil itu tergantung pada prosesnya, bila prosesnya baik pasti hasilnya akan baik yang penting terencana dan berencana. Dan aku yakin bahwa para musisi jalanan itu pasti merencanakan apa yang akan ia lakukan dan tampak sekali terlihat mereka menikmati semua proses perjalanannya.

Fahruroji

2 komentar:

qnara mengatakan...

membaca cerpen diatas mengundang rinduku pada kampung halaman, Kota Bogor, station KA Pasar Anyar mengusik batinku 22 tahun silam, ketika jemari saling bersentuhan tak sengaja memegang bagasi di kereta, maklum diatas kereta penumpang selalu berjubel, antara Cikini-Bogor mengguratkan kenangan yang dalam. Ooo...aku rindu padamu..
ali-bandarlampung

hendryk mengatakan...

Kalau Aku ko' kayak'ny datar2 ja . . .

Posting Komentar

Silakan berkomentar tentang kami sesuka anda. Kami terima apapun dari anda termasuk kepahitan kata-kata anda. terima kasih!

Dipersembahkan oleh - Kopi Sastra | eblogtemplates Semua karya sastra dalam blog ini boleh dipublikasikan ulang dengan syarat mencantumkan Nama Pengarang dan Link KOPI Sastra